Daddy At Home

image

Daddy At Home
Cast : Tao, Luhan, Minseok // Family, Slice Of life // PG-11 // Drabble
.
.
.
Summary : Comeback to your home and called him ‘daddy’ again


Sore itu Tao pulang ke rumah—terlepas dari semua jadwalnya yang menggunung, terlepas dari statusnya sebagai member EXO.
Tao pulang ke rumahnya sebagai Huang Zitao.. si pria kecil yang memasuki halaman rumah mereka dengan senyuman aneh yang berasal dari bibirnya.
Tanpa memencet bel, tanpa mengetuk pintu terlebih dulu .. Tao langsung membuka pintu begitu saja dan menghambur masuk ke dalam sana. Menghirup aroma daging panggang yang tercium kemana-mana.
“Ibu! Aku pulang ..” Tao berlarian. Sesaat tadi dia lupa jika saat ini usianya menginjak 21 tahun. Tao melupakan semuanya dan hanya menginginkan daging panggang itu cepat-cepat masuk ke dalam mulutnya.
Tapi nyatanya tidak ada ibu Tao atau siapapun di dapur rumah mereka kecuali ayahnya yang saat ini sedang mengeluarkan daging panggang dari dalam oven sambil memakai apron berwarna merah.
“A-ayah..” Tuan Huang menoleh. Dia meletakkan potongan daging panggang itu keatas piring sebelum ia melepas apronnya. Mereka hanya saling menatap, sesekali tersenyum kikuk hingga akhirnya Tao mengikuti ayahnya untuk duduk di kursi meja makan. “Kemana ibu?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutnya. Bukannya ia tidak merindukan ayahnya, bukannya ia tidak menginginkan ayahnya berada disini. Tapi rasanya aneh.. Tao tidak tahu harus memulainya dari mana.
“Ibu pergi ke rumah nenek hari ini” tuan Huang berbicara tenang seperti biasanya sambil menyodorkan mangkuk yang dipenuhi nasi kearah Zitao “Besok ibu akan pulang”
Besok? Ohh.. baiklah, padahal Zitao menginginkan sebuah pelukan hangat saat ini juga. Padahal Tao merindukan ciuman lembut di pipi untuk menyambutnya pulang.
Tapi siapa yang ia dapati berada dirumah? Ayahnya .. seorang pria yang bahkan jarang tersenyum untuknya.
Jadi Tao menelan habis daging panggang setengah gosong itu dengan banyak pertanyaan rumit yang memenjarakan otaknya. Apa yang harus ia lakukan selama seharian? Apa yang bisa ia lakukan di rumah untuk menunggu ibunya pulang besok?
Dan setelah Tao kehabisan ide untuk menjawab semua pertanyaan itu. Tuan Huang cepat-cepat mengambil mangkuk Zitao yang telah kosong lalu meletakkannya begitu saja di bak pencucian tanpa ingin perduli.
“Kau masih ingat tendang wushu yang ayah ajari waktu itu?” Tuan Huang menarik lengan Tao yang kurus untuk mengikutinya ke halaman depan. “Ayo kita bertanding dan lihat siapa yang kalah hari ini”
Bertand—? Oh astaga..
Lalu setelah mereka berdua sibuk bergulat diatas rumput sepanjang siang ini. Tao akhirnya menggelakkan tawanya begitu saja—ketika ayahnya berhasil membuatnya jatuh tidak berdaya.
Mereka berdua tertawa .. walaupun pada akhirnya tuan Huang harus berpura-pura kalah agar Tao bisa membantunya kembali berdiri sambil memeluk erat tubuhnya.
“Zitao .. ayah merindukanmu”

Luhan menyukai sepak bola—karna ayahnya.
Karna ayahnya selalu berteriak ribut di depan TV hanya untuk meneriakkan kata Manchester united banyak-banyak dan dulu Luhan tidak mengerti, kenapa ayahnya bertingkah seperti itu..
Yah, tidak.. sampai suatu hari tuan Lu mengajak Luhan menonton pertandingan bola MU sampai larut malam—Sampai Ibunya harus mengomel panjang dan mematikan TV itu secara paksa, karna Luhan harus sekolah besok pagi.
Dan semenjak saat itu ia menggilai MU .. menggilai sepak bola.
“Ayah, ada pertandingan apa hari ini?” Luhan bergabung bersama ayahnya sambil membawa mangkuk berisi kripik kentang kesukaannya.
“Entahlah, mungkin Chelsea dan MU.” Tuan Lu sengaja mendesahkan suarannya panjang-panjang dan mulai menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. “Ayah rasa kali ini Chelsea yang akan menang”
Luhan tersenyum canggung dan segera mengganti channelnya menjadi pertandingan bola. Saat ini umurnya 24 tahun—jadi tidak ada alasan lagi bagi ibunya untuk datang dan mengomel atau mematikan paksa TV mereka karna Luhan harus sekolah besok pagi. Luhan bukan lagi seorang pelajar berumur belasan tahun. Dia lelaki dewasa yang bahkan saat ini selalu bercukur dipagi hari.
Lagipula .. ia sedang libur dari seluruh kegiatan EXO beberapa hari ini. Jadi, hal apa yang bisa melarangnya untuk tidak menonton bola?
“Sebaiknya kau tidur—kita tidak perlu menontonnya karna Chelsea yang akan menang dalam pertandingan ini” Apapun yang dikatakan Tuan Lu tidak juga membuat Luhan beranjak dari sana dan masih berpura-pura sibuk dengan kripik kentangnya. “Luhan ..”
“Oh, ayolah Ayah.. Ayah tahu bukan jika MU tidak semudah itu untuk dikalahkan?” Tuan Lu berpikir sebentar sebelum ia mengangguk setuju pada pernyataan itu. “MU adalah yang terbaik!”
“Ya. MU adalah tim favorit kita” Luhan tersenyum saat mendengar hal itu.
Walaupun sebenarnya ia tidak pernah mencintai MU sebanyak Ayahnya. Walaupun sebenarnya ia juga tidak yakin jika MU akan memenangkan pertandingan melawan Chelsea kali ini. Tapi Luhan sama sekali tidak merasa menyesal untuk tetap berada disana dan meneriakkan nama MU keras-keras bersama ayahnya.
Ia hanya merindukan saat-saat itu..
Saat ia mendengar ayahnya berteriak keras-keras sambil mengangkat kedua tangannya..
Saat ia tanpa sadar mengantuk dan tertidur di bahu ayahnya..
Saat akhirnya Tuan Lu membangunkan Luhan sambil menjerit kegirangan jika MU menang atau malah sebaliknya mengumpat kesal ketika MU kalah..
Yah, Luhan merindukannya.
“Ayah ..”
“ya.. ?”
“bangunkan aku saat pertandingannya selesai”


Minseok adalah lelaki yang pendek. Tingginya hanya mencapai 173—14 cm lebih pendek dibanding Chanyeol si raksasa itu.
Walaupun kadang Minseok membenci tinggi badannya setengah mati ketika ia tidak bisa mengambil kotak sereal di atas rak.
Walaupun kadang Minseok membenci tinggi badannya setengah mati ketika ia tidak bisa memukul kepala Tao atau Sehun ketika dua maknae itu sedang berulah.
Tapi kadang Minseok juga menyukainya—kadang ia bahagia karna tuhan telah memberikannya tubuh yang tidak terlalu tinggi. Yah, Minseok menyukainya.
“Ayah, bisa tolong ambilkan bola basket lamaku?” Tuan Kim mengernyitkan dahi lalu menatap keatas lemari kayu milik Minseok yang menjulang tinggi.
“Apa kau masih tidak bisa meraihnya?”
Minseok tertawa dengan suara renyah. “Yah, lenganku masih pendek seperti dulu”
“Lalu bagaimana kau meletakkan bola ini jauh di atas sana?” Minseok tersenyum sambil mendekap kedua lengannya untuk berpikir.
“Entahlah, aku tidak ingat. Ohh—ayah, bisa tolong ambilkan net basketnya juga? Aku rasa benda itu juga ada di atas sana” Tuan Kim mendesah kuat-kuat, tetapi ia masih tetap mengambil benda itu dan menyerahkannya pada Minseok.
“Ayah! Ayah! Bisa ambilkan benda itu juga?”
“Ha? Benda apalagi kali ini?” Tuan Kim menatap mata bulat Minseok dengan tatapan kesal. Ini benar-benar menyebalkan! Sampai kapan Tuan kim harus berjinjit dan menengok keatas sana hanya untuk memenuhi permintaan konyol putranya?
“Bisa tolong ambilkan kotak berwarna merah?”
“Ya …” Tuan Kim terlihat kesulitan untuk menariknya keluar karna kotak itu ternyata cukup besar untuk ia bawa sendirian. Jadi Minseok juga berada disana—membantu tuan kim mengambil kotak itu dengan berjinjit disamping ayahnya. “Ini berat. Kau meletakkan bom di dalam sini?”
“Oh lebih dari itu.. “
“Hm?”
“Aku meletakkan mantel hangat untuk Ayah di dalam sini” Tuan Kim mengangkat sebelah alisnya dan menengok kearah Minseok dengan tatapan tidak mengerti. “Ayah, maaf karna Minseok tidak bisa menemanimu selama musim dingin tahun ini”
FIN
When Daddy at home.. ahhhhhh -___- emang nyebelin sih kalo di rumah ada ayah, tapi kalo gak ada malah jadi kurang .. ada sesuatu yang hilang .. ada sesuatu yang ehmmm, entahlah. It’s different
Pengennya dibuat Series.. tapi otak saya malah macet gak jelas gini. Tadinya pengen ada Yixing sama Jongdae yang mungkin bisa meramaikan ff ini, tapi malah buntu idenya. Wkwkwk maap dah .. Pokoknya makasih buat yang udah mau baca^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s