Let Me Part 6

Untitled-1 (2)
Cast : Kim Jongin, Lee Chaelli (OC) // Romance // Chapter // PG-14
Summaryt me to hold your hand and keep your love?
-sundaymonday-

Chaelli mendengar suara ribut-ribut tepat setelah ia menuruni anak tangga menuju ruang tengah. Itu suara Ibunya yang sedang berteriak—memekik, dengan telpon yang masih berada di samping kepalanya.Membuat Chaelli mengernyit dan mengangkat kedua alisnya hingga bertautan.
Ada apa? Tidak biasa Ibunya bertingkah seperti itu. Apa ini karna masalah kantornya yang menggila—oh, atau masalah pemilik rumah yang akhir-akhir ini mengganggu mereka.
Chaelli hanya bisa menunggu. Duduk sendirian di sofa merah yang berada dekat dengan ruang tamu, sambil mengamati ibunya yang masih menelpon. Matanya yang bebas melirik kearah jam besar yang menggantung di dinding. Masih jam 06.30, itu artinya waktu yang sangat pagi untuk menganggu seseorang lewat telpon. Apalagi dengan suara Ibunya yang memekik sambil menggeram kesal, hal ini benar-benar menganggu pikirannya.
“Ada apa?” tanya Chaelli ketika Ibunya meletakkan gagang telpon itu di tempatnya kembali.
“Tidak ada” sahut Ibunya dengan sedikit mendesah. “Lebih baik, kau membantuku membangunkan kedua adikmu”
Chaelli tidak menyerah dengan pengalihan pembicaraan itu. Saat ini, ia masih menatap Ibunya dengan pandangan penuh tanda tanya. “Aku tahu ada yang salah”
“Tidak ada” jawab Ibunya singkat sambil melangkah menuju dapur. “Walaupun ada, kau juga tidak perlu tahu”
Akhirnya Chaelli menggerakkan tubuhnya untuk mengikuti kemana langkah Ibunya saat ini, sambil terus-terusan menghentak-hentakkan kedua kakinya. “Ini tidak adil. Aku harus tahu apa yang sedang terjadi pada keluarga ini”
Sementara Chaelli terus mengoceh tentang dirinya yang juga menjadi bagian dari keluarga, tentang dirinya yang adalah putri tertua keluarga ini, tentang dirinya yang merasa Ibunya selalu menutup-nutupi segala sesuatunya akhir-akhir ini. Lalu, baru setelah beberapa menit nyonya Lee membiarkan putrinya berceloteh sendiri, akhirnya ia berbalik dan menatap putri sulungnya itu dengan tatapan setengah kesal—setengah sedih.
“Kau tidak akan suka jika aku membicarakannya”
“Oh, apa?” Chaelli masih tidak mengerti apa yang coba dikatakan Ibunya saat ini. Ambigu—seakan-akan nyonya Lee sedang menyodorkan satu pisau bermata dua yang salah satunya berkarat. “Aku sudah sembilan belas tahun, dan itu artinya aku sudah dewasa untuk mengerti semuanya”
“Ayahmu..” Nyonya Lee memandang ke sekeliling dapur, sebelum ia melanjutkan kalimatnya yang terdengar parau. “Dia bilangdia akan memiliki seorang anak lagi”
“Baguslah. Tapi tunggu, apa?” Chaelli segera menyadari apa yang sedang melanda perasaannya saat ini. Bukan dia sebenarnya—tapi Ibunya yang terlihat sangat shock dan tertekan dengan semua ini. “Jadi, itu yang membuat Ibu berteriak ditelpon? Oh, astaga..”
Chaelli menggerang. Ia kesal setengah mati, sungguh. Tapi bukan karna Ayahnya yang menikah lagi—atau Ayahnya yang akan memiliki seorang anak lagi—atau apapun itu tentang Ayahnya yang telah lama mengabaikannya. Sama sekali bukan. Ia hanya merasa buruk tentang Ibunya. Sangat amat buruk karna nyatanya nyonya Lee sama sekali belum melupakan pria itu. “Aku tidak percaya..”
“Ini memang bukan sesuatu yang bisa kau percayai, benar’kan? Aku bahkan ingin sekali meledak di depan wajahnya”
“Bukan itu!” sahut Chaelli cepat “Ibu sudah berjanji padaku untuk segera melupakannya. Dan sekarang, Ibu melakukan hal itu lagi dengan berlagak seakan-akan tidak rela jika dia memiliki anak bersama wanita lain” Chaelli mencoba menyerukan seluruh kata yang saat ini memenuhi otaknya. Ia berusaha tidak menangis. Berusaha tidak terlihat kacau di depan Ibunya sendiri karna itu bisa memperburuk keadaan. Tapi.. kenapa rasanya begitu sulit untuk dilakukan?
“Sadarlah, jika pria itu tidak mencintai Ibu! Bahkan dia meninggalkan kita—mengabaikan kita tanpa perasaan bersalah sedikit pun. Lalu, apa lagi yang masih Ibu harapkan darinya?”
Akhirnya air mata itu menyeruak keluar juga melalui pelupuk matanya. Chaelli menangis, dan untuk pertama kali di dalam hidupnya ia merasa begitu bodoh sekaligus tidak rela ketika menumpahkan seluruh air mata itu keluar.
“Hal itu membuatku semakin membencinya. Ketika Ibu merasa masih sangat mencintainya, dan ketika Ibu tidak bisa melepaskannya. Hal itu membuatku merasa tersiksa dengan seluruh kenyataan ini. Kenyataan jika Ibu—Ah, bukan kita semua telah dicampakkan olehnya..” lalu Chaelli terdiam. Ia menutup matanya rapat-rapat sambil mencoba mengunci bibirnya yang mulai bergetar “Oleh seseorang yang ku panggil Ayah”
….
Sudah seminggu ini Chaelli hanya bermalas-malasan di dalam kamarnya tanpa melakukan apapun. Ia tidak pergi ke kampus, ke rumah Mina, ke kafe Bobby Jo, ke halte bus, atau ke tempat manapun yang bisa ia datangi. Chaelli hanya mengurung dirinya di dalam kamar—sendirian. Bersama laptop yang kadang-kadang ia nyalakan untuk mengetik artikel showcase yang hampir selesai. Tapi selain itu, tidak ada. Chaelli hanya sesekali keluar dari ruangan beratap rendah itu ketika makan malam, atau ketika adiknya mulai membuat keributan di lantai bawah. Dan daripada itu semua, ia juga mengabaikan seluruh orang yang mencoba berinteraksi dengannya. Terisolasi—atau lebih tepatnya, ia sedang mengisolasikan dirinya sendiri.
Sejak ia bertengkar dengan Ibunya beberapa waktu lalu. Berbicara dan berinteraksi dengan orang lain rasanya menyesakkan. Bukan, bukan karna ia merasa bersalah tentang apa yang telah ia katakan terakhir kali pada ibunya. Hanya saja, Chaelli merasa sedih atas dirinya sendiri. Ia merasa menjadi satu-satunya orang asing di dunia ini—karna keluarganya yang berbeda, dan juga karna Ayahnya yang mencampakkan mereka.
“Ya, ya. Kau boleh makan siang di sini”
“Benar. Bahkan kau boleh memakan apapun yang ada di dalam kulkas kami”
Sayup-sayup suara itu terdengar, dan Chaelli sudah bisa menebak jika kedua adik kembarnya membuat ulah lagi. Mereka sudah terlalu sering membuat masalah. Seperti sebuah kebiasaan rutin yang tidak bisa dihentikan sama sekali. Bahkan akhir-akhir ini tingkah keduanya semakin bertambah parah dengan mengajak siapapun yang mereka temui di jalanan hanya untuk makan siang bersama di rumah mereka. Bayangkan saja, DI RUMAH MEREKA. Dan itu artinya kedua adik kembarnya membiarkan orang asing memakan habis seluruh isi kulkas mereka, dibanding harus berbagi dengan Chaelli—kakak kandung mereka. Oh, bagus sekali.
“Hei, hei sudah kubilang berapa kali untuk tidak membawa orang asing ke dalam rumah!” Chaelli sudah berteriak keras bahkan ketika ia menuruni tangga pertama. “Aku benar-benar tidak akan melepaskan kalian kali ini” seru Chaelli saat ia mencapai anak tangga terakhir.
Kakinya bergerak cepat menuju dapur dan mendapati kedua bocah itu sedang terkikik dengan seorang laki-laki yang duduk membelakanginya. “Maaf, tuan aku..” Chaelli menyentuh bahu pria itu yang terasa hangat. Lalu ketika pria asing itu menoleh ia merasa seluruh dunia sedang mempermainkannya saat ini.
“Oh, astaga.. Apa yang sedang kau lakukan di dalam rumahku, Kim Jongin!” Chaelli tersentak. Bahkan ia hampir melompat karna begitu terkejut mengetahui Jongin yang tiba-tiba berada di dalam dapurnya. Tapi sebisa mungkin ia menutupi semua itu dengan membuat gaya bicaranya seolah-olah sedang merasa sangat marah. “Apa ini pelanggaran privasi lagi? Apa kau mengintrogerasi Mina untuk mencari tahu alamatku?”
Jongin mengerjapkan matanya perlahan-lahan, sebelum ia terkekeh dengan suara yang seperti anak kecil. “Haruskah aku melakukan hal itu untuk membuatmu terkesan?”
“Apa?”
“Dengar, aku memang merindukanmu, dan aku bersedia melakukan apapun untuk bisa menemuimu yang sudah seminggu ini menghilang dari kampus. Tapi bukankah itu terlalu jauh? Bisa-bisa kau menuntutku dengan tuduhan sebagai penguntit jika ketahuan.”
Wajah Chaelli memerah. Jongin benar. Ini hanyakarna Chaelli yang terlalu bodoh mengira Jongin benar-benar mencari alamatnya hingga harus menginterograsi Mina. Jongin tidak memiliki hubungan apapun dengannya, jadi ia tidak memiliki alasan yang kuat untuk mencarinya tahu alamatnya walaupun pria itu merindukannya.
Tapi tunggu, lagipula kenapa Chaelli harus peduli jika Jongin merindukannya atau tidak? Ia bahkan tidak mengatakan sesuatu yang bagus saat terakhir kali mereka bertemu. Penolakan (lagi). Entah, bagaimana kali ini Ia harus menghadapinya.
“Lalu, kenapa kau bisa berada di sini?” tanya Chaelli ketika deru nafasnya perlahan-lahan terkendali. “Jangan bilang padaku jika kau baru saja menerima ajakan makan siang adikku di rumah mereka”
“Ya” Jawab Jongin masih dengan kekehannya. “Bisa dibilang begitu. Mereka sangat baik, karna bersedia mengundangku makan siang ditengah kelaparan ini” Jongin mengusap-usap perutnya sendiri, dan berlagak jika dia adalah satu-satunya mahluk paling kelaparan di dunia ini. “Jadi, apa yang kau punya?”
Chaelli tidak lebih dulu menjawab. Ia hanya berjalan lesu menuju kulkas dan menengok ke dalam lemari pendingin itu kalau-kalau ada sesuatu yang bisa ia jadikan makanan.
“Sayangnya, tidak ada apapun di sini selain selada, tomat, roti, mayonese dan beberapa iris daging untuk makan siang”
Jongin berteriak kesenangan—bersama kedua adiknya yang juga mengikuti tingkah Jongin yang kekanak-kanakan. “Oh, bagus. Sandwich, aku selalu suka roti isi”
“Tidak ada remaja korea yang suka roti isi sebagai makan siang mereka” Chaelli mendesah. Seakan ia sudah terlalu lelah untuk memprotes kalimat-kalimat Jongin saat ini. “Mereka lebih suka makan bulgogi atau steak yang akhir-akhir ini populer”
“Kau benar, bulgogi. Aku juga suka”
Chaelli mengangkat sebelah alisnya lalu kemudian ia tertawa sendiri mendengar jawaban Jongin. “Kau benar-benar tidak punya pendirian. Semenit yang lalu kau bilang suka sandwich, lalu sekarang kau bilang kau suka bulgogi. Aku penasaran makanan apa yang benar-benar kau sukai”
Jongin terdiam. Ia benar-benar tidak bisa menggerakkan tubuhnya, ketika melihat bagaimana Chaelli tertawa seperti itu. Ini pertama kalinya Jongin membuat Lee Chaelli tertawa, dan ia bahagia karna gadis itu terlihat benar-benar cantik saat ini. Terlepas dari kebiasaannya yang selalu marah-marah ketika mereka baru berbicara selama beberapa detik—saat ini gadis itu tertawa, Chaelli tertawa dihadapannya. Ini benar-benar luar biasa, Jongin benar-benar merasakannya. Suara tawa Chaelli yang menggema memenuhi dadanya, hingga Jongin merasa harus membalas tawa itu dengan sebuah senyuman.
“Sebenarnya, ada makanan yang sangat kusukai”
“Oh, ya? Apa?” tanya Chaelli penasaran sambil menolehkan pandangannya ke arah Jongin yang sedang tersenyum.
“Memakan sandiwch buatanmu sambil melihatmu tertawa seperti ini”
Tapi setelah itu tidak ada tawa lagi yang keluar dari bibir Chaelli. Gadis itu hanya memberengutkan wajahnya sambil berpura-pura teralih pada roti yang menunggu untuk diolesi mayonese. Pipinya memerah, dan Chaelli sangat tahu Jongin akan menertawainya jika pria itu melihatnya tersipu malu seperti ini.
Sialan kau, Jongin! Kenapa kau harus mengatakan hal bodoh seperti ini disaat aku sudah jatuh cinta padamu?
….
Jongin menyodorkan sebuah minuman kaleng ketika mereka duduk di salah satu bangku taman yang tidak jauh dari rumah Chaelli. Tentu saja, ini karna kedua adiknya itu merengek untuk bermain jungkat-jungkit di taman, tepat setelah mereka melahap habis sandwich buatannya. Menyebalkan. Jika ini bukan karna keterpaksaan, mana mungkin ia bersedia menghabiskan waktu siangnya hanya untuk duduk-duduk di taman—Oh, ya dan bersama Kim Jongin. Astaga.
“Siapa nama mereka? Minsee dan Minsae?” tanya Jongin membuka pembicaraan. Chaelli tahu, Jongin hanya berpura-pura menanyakan hal itu untuk basa-basi. Lagipula, sejak tadi pria itu juga sudah mendengarnya meneriakkan nama-nama mereka berulang kali.
“Hm. Lee Minsee dan Lee Minsae”
“Monoton sekali. Bagaimana jika kita menggantinya dengan marga Kim?” Jongin tersenyum. Lalu dengan cepat ia mengambil minuman kaleng itu dari tangan Chaelli untuk membantunya membuka penutupnya yang keras.
“Lucu sekali. Siapa kau berani mengganti nama mereka?”
Jongin terdiam. Sepertinya ia sedang berpikir, atau mungkin sedang berpura-pura berpikir karna ia baru saja menyeringai. Sungguh, seringainya itu sama sekali tidak menunjukkan jika dia sedang berusaha memutar otaknya. “Anggap saja, aku adalah kakak ipar mereka” jawabnya sambil terkekeh.
“Kakak, apa? ” Chaelli benar-benar tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, dan juga rona kemerahan yang menempel di pipinya. Apa Jongin tidak bisa berhenti untuk menggodanya sebentar saja? “Kau benar-benar gila”
Jongin hanya menggeleng kecil sambil tertawa-tawa seakan-akan kalimatnya adalah sebuah lelucon yang menyenangkan. “Ayolah, kau tahu aku hanya bercanda”
Chaelli sama sekali tidak menjawab. Ia hanya duduk dan berdiam diri di bangku itu sambil mengeratkan pegangannya kuat-kuat pada minuman kaleng yang diberikan Jongin sesaat tadi.
“Hei, ada apa?” lanjut Jongin sambil mengarahkan tatapannya pada wajah Chaelli yang masih memerah. “Kau kedinginan ya?”
Chaelli masih terdiam sejenak. Lalu setelah itu ia membuka mulutnya untuk bersuara pelan. “Jongin..”
“Hm?”
“Apa kau benar-benar menyukaiku?”
Jongin tersenyum, lalu kemudian ia mengangguk dan mengatakan kata “Ya” dengan tegas. Sama sekali tidak kelihatan jika saat ini ia merasa terkejut dengan apa yang ditanyakan Chaelli padanya. “Memang benar, jika aku benar menyukaimu. Tapi maaf saja, jika kau mengharapkanku mengatakannya lagi padamu hanya untuk mendengar penolakan. Aku sama sekali tidak bersedia melakukan itu”
“Jadi, kau sudah menyerah?” tanya Chaelli dengan tatapan datar.
“Sama sekali tidak. Aku hanya sedang menunggu sampai perasaanmu datang” Chaelli mengernyit bingung. Perasaannya datang? Oh, andai saja Jongin tahu jika saat ini Chaelli telah menyimpan perasaan itu diam-diam di dalam hatinya. Perasaan yang menggetarkan, perasaan yang mendebarkan dan memenuhi seluruh rongga dadanya hingga ia sendiri hampir meledak.
“Apa maksudmu?”
“Aku sedang menunggumu jatuh cinta padaku. Walaupun kau bilang jika kau tidak mencintaiku sampai tenggorokanmu kering, aku akan tetap bersediamenunggumu” Kali ini Jongin hanya menatap lurus ke arahnya. Tanpa ekspressi apapun yang bisa ia mengerti—tanpa sebuah seringai khas miliknya, atau senyuman bodoh yang biasanya secerah matahari. Tidak ada. Hanya ada Jongin yang menatapnya dengan bola mata hitam pekat miliknya.
“Kau bilang kau menyukai tarianku, bukan?” pertanyaan itu seketika membuat jantung Chaelli berdebar-debar. Menyaksikan tarian Jongin yang luar biasa adalah kelemahannya. Dan Chaelli benar-benar tidak tahu lagi, jika nanti ia akan dihadapkan pada kenyataan itu.
Tentang Chaelli yang jatuh cinta berkali-kali pada tarian Jongin yang luar biasa.
“Aku akan berlatih lebih keras lagi, dan aku berjanji akan menampilkan sebuah tarian yang bagus hingga membuatmu tidak bisa berpaling lagi padaku” gumam Jongin dengan suara rendah. “Tapi, sampai saat itu tiba mau’kah kau berjanji untukku?”
Chaelli tidak segera menjawab. Ia hanya menutup bibirnya rapat-rapat hingga Jongin mengambil sebelah tangannya dan membuat sebuah lingkaran kelingking pada jari mereka.
“Jika suatu saat nanti aku bisa membuatmu terpukau dengan tarianku. Membuatmu menyadari jika kau benar-benar menyukaiku. Membuatmu mengerti jika aku adalah satu-satunya pria untukku. Berjanjilah jika kau akan memberiku satu kesempatan.” Wajah Jongin berseri-seri. Ia masih menautkan kelingkingnya pada kelingking Chaelli dengan sangat erat. “Aku hanya butuh satu, kesempatan untuk membuatmu bahagia bersamaku”

…………….
TBC
Oke ngaret ya updatenya? :/ makasih yang udah mau baca ^^

Advertisements

4 thoughts on “Let Me Part 6

  1. Apa iniii??!?!?!? Dimana kelanjutan ceritanya?? Haha
    Ah aku benar” suka cerita ini..suka dg kalimat” ceritanya
    Dimana chaelli menyangkal mati”an ttg persaannya..jongin yg ngga nyerah biar si chaelli jatuh cinta ma dia..uh aku jd geregetan ma mereka hihi
    Jalan cerita juga semakin menarik..thor please jngan lama” updatenya :”3 semoga jongin ngga akan menyerah untuk mmbuat chaelli jtuh cinta ma dia..jongin, fighting!!!!

    1. Waduuhhh ternyata ada juga yang baca ff ini hahahahaaa *ketawa miris. Sebenarnya ini ff udh selesai dari jaman avatar Aang. Tapi karna authornya malas sekali.. wp ini saya biarkan terbengkalai. Sip ditunggu next post ya

  2. Selamat pagi ^^ Aku Fans
    kkamjong yang terdampar di
    WordPress ini hehehehehe
    Aku suka penulisan anda
    termaksud Alur ceritanya, dan
    aku baru baca part 6 dan
    langsung jantuh cinta….buat
    aku jatuh cinta sampai akhir
    cerita ini semangat !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s