Let Me Part 7

Let Me
Cast : Kim Jongin, Lee Chaelli (OC) // Romance // Chapter // PG-14
Summary :
Can you let me to hold your hand and keep your love?
-sundaymonday-


Bulan desember akhirnya datang lebih cepat, dan semua orang seantero kampus sudah membicarakan pesta dansa akhir tahun ini yang biasanya digelar di aula auditorium. Tentu saja para gadis sibuk mempersiapkan tentang gaun, make up, dan sepatu high heels super tinggi itu untuk membuat kaki mereka kelihatan bagus nantinya. Sementara para pria—tidak ada yang perlu dipersiapkan dengan begitu detail untuk acara itu, kecuali satu pucuk kertas yang berisi rayuan cheesy untuk mengajak para gadis bersama mereka. Ugh, sial. Perayu ulung.
Untung saja, Jung Taehee memberinya banyak artikel yang harus diperbaiki selama akhir tahun ini. Jadi, tidak ada alasan bagi Lee Chaelli untuk menyetujui ajakan Mina pergi ke butik bersamanya dan membeli beberapa gaun indah yang mahal hanya untuk mendengarkan para pria itu membual tentang betapa indahnya mata mereka.
Dan seperti yang biasa ia lakukan di waktu senggangnya, menulis memang menyenangkan. Seluruh pikirannya terbuka, begitu juga dengan perasaan yang akhir-akhir ini menyesakkan dadanya seakan menghilang begitu saja. Satu kata—dan itu berarti banyak untuk melonggarkan perasaannya.
“Chaelli, kau ada di kamarmu?” Itu suara Ibunya—nyonya Lee yang tiba-tiba memanggil dari lantai bawah, mungkin dapur. “Bisa kau turun dan membantuku di sini?”
Chaelli segera bangkit dari tempat tidurnya, dan meninggalkan laptopnya dengan keadaan tetap menyala begitu saja. Hubungan meraka memang belum membaik sepenuhnya, bahkan setelah satu bulan berlalu semenjak pertengkaran itu. Tapi Chaelli masih harus tetap membantu di dapur. Lagipula ia sudah terlalu lelah untuk terus berkutat dengan laptop itu seharian ini.
“Eomma, butuh sesuatu?”
Nyonya Lee hanya sedikit mengangguk, sebelum kemudian melirik kearah botol-botol kecil yang tersusun rapi di atas meja dapur. “Aku rasa aku butuh garam dan merica tambahan untuk membumbui kalkun. Jadi bisakah kau membelikannya untukku?”
Chaelli tersenyum, lalu mengambil jaketnya yang berada di belakang pintu dengan sedikit tergesa-gesa. “Aku akan segera kembali”

Berjalan di bulan desember tidak akan pernah menjadi sedingin ini jika saja ada seseorang yang bersedia berjalan di sampingnya. Seseorang yang bisa menatap hidung Chaelli yang mengeluarkan asap dan menghiburnya dengan sebuah genggaman tangan yang hangat. Ah, itu pasti menyenangkan. Yah, setidaknya untuk saat ini. Ketika ia hampir membeku di jalanan trotoar hanya untuk menunggu lampu merah pejalanan kaki berubah warna menjadi hijau.
“Berjalan-jalan sendirian di malam natal?” tiba-tiba seseorang berbisik tepat di depan telinganya yang sudah memerah. “Apa kau berencana untuk membelikanku sebuah kado natal yang bagus?”
Chaelli mendengus. Ia sudah terlalu hapal suara itu tanpa harus menengok dan mendapati wajah Jongin yang sedang tersenyum konyol ke arahnya. “Astaga, aku bosan selalu terlibat denganmu”
Jongin terkekeh. Lalu ia menghentakkan sepatu ketsnya di atas salju yang menutupi jalanan. “Salahkan dirimu yang selalu ada di sekitarku”
“Salahku? Bukannya kau sendiri yang selalu mengikutiku seperti anak anjing yang tersesat?” Chaelli menatapnya dengan tatapan tajam, sementara Jongin masih terkekeh dengan hidungnya yang kemerahan karna udara di luar yang mulai menggila. “Dan lagipula, ini adalah lingkunganku. Apa yang sedang kau lakukan di sekitar sini?”
“Entahlah. Aku hanya berjalan-jalan begitu saja, dan tanpa sadar aku sudah berada di sekitar sini. Ehm, mungkin karna aku sangat merindukanmu” jawab Jongin sambil tersenyum lebar kearahnya. Senyuman matahari yang bisa membuat siapa saja luluh.
“Pergilah, aku punya banyak hal yang harus dilakukan” kata Chaelli sambil bergegas menyebrang jalan ketika lampu sudah berubah warna.
Kepala Chaelli sedikit berputar. Jongin masih berada di sana, berdiri sendirian di bawah lampu jalanan—di sebrang sisinya, dengan kedua tangan yang berada di kantung jaket tanpa berjalan mengikutinya seperti biasa. Baiklah, ini sedikit aneh dan membuatnya penasaran.
“Kau ingin tetap di sana?” Chaelli kembali bersuara. Astaga, padahal baru saja lima menit yang lalu ia bersumpah untuk tidak membiarkan dirinya sendiri berbicara dengan pria bernama Kim Jongin itu.
Wajah Jongin berseri-seri. Lalu seketika itu ia mengambil langkah panjang-panjang untuk berdiri di sebelah Chaelli, tepat sebelum gadis itu berjalan mendahuluinya.
“Jadi, apa sekarang kau sedang mengajakku untuk memilih kado natal?” bisik Jongin pelan sambil sedikit terkikik. Membuat Chaelli mengerjapkan matanya berulang kali dan menatap pria itu dengan alis yang bertautan.
“Tidak. Sama sekali”
“Lalu, kenapa kau ingin aku mengikutimu? Kupikir kau tidak suka jika diikuti anak anjing yang tersesat sepertiku” Jongin terkekeh lagi dengan asap putih yang mengelilingi bibirnya. Sialan, rupanya ia menganggap kalimat Chaelli barusan sebagai sebuah pujian.
“Jangan salah paham. Ak-aku..” lalu tepat setelah itu Chaelli merasa seolah-olah tidak ada lagi sebuah kalimat yang bersarang di dalam kepalanya. Semuanya terasa putih, dan kosong. Oh, ayolah.. ia sangat membutuhkan bakatnya sebagai penulis saat ini. Setidaknya untuk membuat alasan yang bagus karna ia baru saja mengajak laki-laki bernama Kim Jongin itu untuk berjalan bersamanya. “Ehm, aku butuh seseorang untuk membantuku membawa kantung belanjaan”
“Benarkah?” tanya Jongin dengan sedikit keraguan.
“Tentu saja. kau pikir kenapa aku ingin pergi bersamamu?”
Jongin sedikit mendengus. Lalu kemudian ia mengeratkan jemarinya pada saku jaket yang hangat. “Astaga, kau bahkan tidak bisa untuk mengatakan hal manis padaku sedikit saja”
“Terimakasih” sahut Chaelli lagi.
“Apa?”
“Terimakasih untuk bantuanmu nanti” Chaelli tersenyum lebar karna baru saja berhasil membodohinya. Sementara Jongin hanya menarik nafasnya dalam-dalam dan mengikuti langkah Chaelli menuju mini market tanpa mengatakan apapun.
….
“Untuk apa kau membeli begitu banyak pasta?” tanya Jongin sambil mengangkat kantung-kantung belanjaan itu dengan kedua tangannya. “Memasak kalkun atau memanggang hanwu rasanya lebih baik untuk hidangan natal”
Chaelli sama sekali tidak bersuara. Ia hanya menatap datar Jongin sambil mengabaikan seluruh pertanyaan-pertanyaan pria itu tentang barang belanjaannya. “Jadi, mana hadiahku?”
Chaelli mendesah. Berjalan bersama Jongin tidak bisa lebih buruk lagi. Mereka baru saja melewati dua belokan dan Jongin sudah mengajukan lebih dari dua puluh pertanyaan padanya. Oh, ya dan semua pertanyaan itu benar-benar tidak masuk akal dan sangat menganggu. “Aku tidak tahu hadiah mana yang kau maksud”
“Tentu saja, hadiah natalku. Aku sudah bersedia membawakan barang belanjaan untukmu, dan kau tidak membayarku sama sekali?”
Seharusnya Chaelli tahu jika ia tidak perlu mengajak Jongin untuk pergi bersamanya. Biarkan saja Jongin berdiri di bawah lampu redup itu sampai ia selesai berbelanja. Lagipula, bukankah semua ini karna pria itu? nyatanya Chaelli hanya memiliki garam dan merica di dalam daftar belanjaannya. Dan tentang ia yang membeli sepuluh bungkus pasta sekaligus malam ini, hanya sebuah alasan saja untuk membuat Jongin mengikutinya.
Bodoh, harusnya ia tidak melakukan itu!
“Anggap saja Sandwich itu sebagai bayarannya” Jongin tidak bersuara. Lalu setelah ia mulai menerka-nerka tentang apa yang dimaksudkan Chaelli, tiba-tiba Jongin berteriak nyaring.
“Sandwich yang.. oh astaga!” Jongin menggeram dengan suara parau. “Bagaimana bisa kau menyebutnya sebagai hadiah, padahal aku sudah lupa dengan rasanya”
Setelah itu Chaelli tertawa lebar, lalu kemudian ia berhenti karna ia baru saja menyadari telah memenangkan pembicaraan ini. “Lalu bagaimana? kau ingin aku mengundangmu lagi untuk makan di rumah kami?”
Jongin menggeram lagi. Pipinya memerah, juga telinganya yang hampir sebagian besar tertutupi syal. Tapi daripada semua itu, Chaelli benar-benar menikmati bagaimana wajah Jongin yang kelihatan frustasi setengah mati.
“Tentu saja bukan seperti itu. Kau pikir aku hanya mengisi otakku dengan makanan?” Chaelli tersenyum, lalu ia mengangkat kedua bahunya bersamaan.
“Kalau begitu ucapan terimakasih saja cukup, bukan?” sepertinya Chaelli memang sedang berusaha menggodanya saat ini. Lihat saja bagaimana caranya mengambil kantung-kantung itu dari tangan Jongin, dan berjalan memunggunginya begitu saja tanpa perasaan bersalah sedikit pun.
“Hei, tunggu dulu!” teriak Jongin dengan sedikit agak ragu. “Aku punya sesuatu untukmu”
Chaelli menoleh menatap Jongin yang saat ini sibuk merogoh kantung celananya dalam-dalam. Bisa terlihat jika saat ini ia sedang berusaha mengambil sesuatu yang berbentuk kotak dari dalam sana. Tunggu—kotak? Oh, astaga.. jangan bilang padanya, jika Jongin berencana untuk melamarnya.
“Tutup matamu” perintah Jongin cepat sambil menghentakkan kakinya untuk menyingkirkan kegugupannya. “Ayolah, tutup matamu”
Chaelli masih tidak bereaksi apapun. Menutup mata itu berarti sangat banyak. Bagaimana bisa ia berani mengambil resiko jika nanti Jongin akan menciumnya atau sesuatu yang lainnya ketika ia tidak melihat.
Tidak, jangan. Chaelli tidak bisa membiarkan hal ini terjadi.
“Kenapa aku harus menutup mataku?” tanya Chaelli dengan sedikit terbata. “Bagaimana aku yakin kau tidak akan melakukan hal aneh selama aku menutup mata?”
“Hal aneh?” sahut Jongin sambil terkekeh. “Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Satu-satunya hal yang ingin kulakukan hanya memberikanmu hadiah natal”
‘itu sebuah cincin, aku tahu..’ Chaelli mendesis, sambil menatapnya dengan tatapan yang mendominasi “Walaupun begitu, aku tetap bisa menerimanya dengan mata terbuka”
“Oh, ayolah! Itu tidak seperti sebuah kejutan” erang Jongin masih dengan nada putus asa. Sesulit itukah membuat Chaelli menutup matanya? Bahkan saat ini ia sedang tidak memohon apapun tentang perasaannya. “Hanya beberapa detik, oke? aku janji ini tidak akan lama” kata Jongin dengan nada memohon. “Hanya beberapa detik”
Chaelli terdiam. Rasanya ia memang harus mengabulkan permohonan Jongin kali ini. Hanya menutup mata itu bukan permintaan yang sulit—apalagi mengingat jika pria itu telah membantunya membawakan kantung belanjaan. Rasanya tidak adil jika Chaelli bersikeras untuk menolak permintaannya.
Jadi, perlahan-lahan ia menutup matanya. Membiarkan Jongin mendekat kearahnya, dengan hembusan nafas pria itu yang terasa menyapu sekitaran pipinya.
‘Jongin akan menciumku..’
Kalimat gila itu berputar-putar di dalam kepalanya. Bukan—bukan, sebenarnya bukan hanya kalimatnya saja yang terdengar gila, tapi segala hal yang terjadi saat ini memang sama gilanya dengan pikirannya sendiri.
Matanya yang terpejam, langkah Jongin yang perlahan-lahan mendekat, deru nafas Jongin yang terasa menyentuh pipinya, juga sebuah kotak di dalam kantung celana Jongin yang berisi cincin. Astaga, cincin! Dia baru saja berada di semester dua, dan bagaimana bisa Jongin melamarnya begitu saja? Argh, sialan.
“Baiklah, kau bisa membuka matamu sekarang”
Chaelli membuka matanya. Ia sama sekali tidak bisa menembukan kesadarannya saat ini.
Nyatanya tidak ada sebuah ciuman, sebuah lamaran, apalagi cincin di dalam kotak seperti yang ia bayangkan. Hanya ada Jongin—dan cengirannya yang terlihat konyol itu bersama sebuah kotak yang sama sekali bukan berisi cincin, tapi sebuah kertas berwarna pink yang berkerlip.
“Apa.. ini?”
“Oh, itu kupon khusus. Akhir-akhir ini nenekku tidak bisa berada di sebuah pesta terlalu lama, dan kau tahu aku membutuhkan seseorang untuk bertepuk tangan ketika aku menerima penghargaan sebagai penari terbaik tahun ini. Jadi, aku mengajakmu”
Chaelli terbelalak, lalu kemudian ia berteriak marah sambil mengabaikan seluruh kantung belanjaan yang saat ini berada dalam genggamannya. “Apa? tidak, Aku tidak mau! Kenapa kau harus mengajakku?”
“Kenapa kau tidak mau pergi bersamaku?” tanya Jongin heran.
“Tentu saja karna kita tidak.. Oh, sialan. Apa kau sedang mempermainkanku Kim Jongin?” Jongin mengerjap, lalu kemudian mengerutkan keningnya hingga bertautan.
“Tentu saja, tidak. Kenapa kau pikir aku mempermainkanmu?”
“Karna sebelumnya kau bilang kau akan memberikanku hadiah natal dan nyatanya kau malah membuat bencana seperti ini. Kau pikir semua wanita akan menyetujui ajakan pestamu dengan mudah begitu saja?” tanya Chaelli sambil sedikit menggerang. “aku bukan wanita murahan seperti itu!” seru Chaelli singkat, sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan Jongin sendirian di bawah jalanan yang gelap.
Chaelli memberengut sejenak. Lalu kemudian ia memukul kepalanya sendiri, mengingat bagaimana pikiran-pikiran gila itu menghantui otaknya.
Jongin yang akan menciumnya, Jongin yang akan melamarnya, Jongin yang akan memberikannya sebuah cincin. Oh, yang benar saja! apa suhu dingin diluar sini telah menjalari kepalanya sehingga ia tidak bisa berpikir dengan benar?
….
Hujan adalah hal terakhir yang menganggu semua orang untuk menghadiri pesta dansa akhir tahun. Chaelli melangkahkan kakinya menuju ruang tamu dimana Jongin sedang menunggunya dengan tuxedo hitam dan rambut yang disemir ke belakang.
“Baiklah, kalian. Selamat bersenang-senang!” Nyonya Lee bersuara dari arah dapur sambil melambaikan satu tangannya dan bertukar senyum dengan Jongin.
Ini benar-benar mimpi buruk—sangat buruk hingga ke titik yang paling dasar sekalipun. Pada keputusan akhirnya, tetap saja Chaelli terjebak bersama Jongin yang akan membawanya pergi ke pesta dansa akhir tahun.
Ini menyebalkan, tentu saja. Salahkan saja, Kim Jongin yang memiliki senyuman matahari—juga bakat untuk mempengaruhi Chaelli menyetujui permintaannya. Tentu saja dengan bantuan nyonya Lee dan kedua adiknya Minsee dan Minsae.
Siapa yang bisa menebak jika Jongin tiba-tiba muncul di depan gerbang rumahnya pagi ini, sambil membawa satu kotak penuh coklat dan sebuah cengiran bodoh yang berasal dari wajahnya.
“Terimakasih, nyonya Lee. Aku berjanji akan menjaga putrimu dengan baik” Nyonya Lee kemudian mengangguk-angguk, sebelum ia terkekeh sendiri setelahnya.
“Tolong jaga dia laki-laki tampan lainnya diluar sana”
Jongin tersenyum. Sementara Chaelli hanya bisa mendengar kedua adiknya terkikik di belakang pintu dapur. Oh, bagus! Apa yang bisa lebih buruk lagi dari ini?
TBC
…………….
Pyuh, ngebut! -,- konflik puncak sebentar lagi muncul. Makasih yang udah mau baca ^^

Advertisements

2 thoughts on “Let Me Part 7

  1. Hahahah~ Aku juga sebal dengan jongin kalau hadiah natal nya seperti itu. Jadi jadi jangan cepet” jadiannya berdua, aku nunggu moment dimana jongin seperti gentleman. haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s