Let Me Part 9

Let Me
Cast : Kim Jongin, Lee Chaelli (OC) // Romance // Chapter // PG-14
Summary :
Can you let me to hold your hand and keep your love?
-sundaymonday-

Chaelli duduk di salah satu bangku aula, tempat ia pernah menatap Jongin yang menari dengan sayap tidak terlihat. Tempat yang sama, ketika jantungnya bergerak-gerak sendiri hingga rasanya seperti ingin melompat keluar. Tempat dimana Chaelli menyadari jika ia benar-benar telah jatuh pada pesona Kim Jongin untuk pertama kali.
Aula showcase ini harusnya juga menjadi milik Jongin selama dua tahun terakhir. Tapi nyatanya walaupun Chaelli sudah cukup lama menunggunya, tidak ada Jongin yang akan muncul dari balik tirai dan menampilkan tariannya yang luar biasa. Hanya sebuah panggung kosong tanpa gairah, tanpa lampu yang seakan-akan menyoroti matanya, juga tanpa Jongin dan senyumannya yang seperti matahari.
Semua hal di dalam hidupnya telah menghilang. Seluruhnya, termasuk bagian-bagian terkecil dari hatinya yang dulu mati-matian ia pertahankan.
Jongin si penari itu sudah tidak ada lagi disini—hibernasi di kutub utara, atau bersembunyi di gua tergelap bersama para kelelawar. Entahlah. Satu-satunya hal bagus selama Jongin menghilang adalah ia tidak perlu repot-repot menyangkal perasaan itu lagi. Chaelli mencintainya, itu sebuah kenyataan yang manis jika Jongin masih berada di sini, bersamanya. Memeluknya. Memberikan genggaman tangannya yang hangat. Atau bahkan Chaelli tidak keberatan jika Jongin ingin mencium bibirnya sekalipun.
Tetapi, tentang Chaelli yang mencintainya sama sekali bukan kenyataan yang manis. Mencintai Jongin tanpa pria itu di sampingnya adalah kenyataan yang pahit.
“Upacara kelulusan sebentar lagi dimulai” Mina mengintrupsinya dari arah belakang. Bersama Jung Taehee yang saat ini melambaikan tangannya ke udara. Ah, gadis itu selalu kelihatan bersinar di setiap waktu. Membuat Chaelli merasa iri setiap kali melihatnya. “Aku tidak bisa membiarkanmu berada di sini seharian di hari kelulusan kita”
“Aku tahu. Aku hanya datang untuk melihat-lihat”
“Kau bukan hanya datang untuk melihat-lihat, tapi datang untuk mengingatnya” Taehee mengoreksi kalimat Chaelli setelahnya, lalu kemudian tersenyum sambil memainkan setelannya yang kelihatan mahal. “Kau mencintainya, karna itu kau merasa begitu peduli”
Mungkin jika dua tahun lalu seseorang mengatakan hal itu di depan wajahnya, Chaelli akan berteriak marah dan memprotesnya habis-habisan. Tapi saat ini ia hanya bisa mengangguk pelan sambil tersenyum tipis. “Kau benar, aku memang mencintainya. Andai saja aku bisa mengatakannya lebih awal”
“Berbahagialah, karna aku di sini untuk memberitahumu sebuah kabar baik” ucap Taehee sambil memamerkan seulas senyumnya. “Jongin sudah kembali ke Korea”
Chaelli seperti kehilangan seluruh oksigen ketika mendengar berita itu. Seluruh kalimat Taehee berputar-putar di dalam otaknya. Mengelilingi kepalanya dan membuatnya hampir kehilangan kesadaran.
‘Jongin sudah kembali ke korea’ Jongin sudah.. itu artinya, Jongin sudah kembali? Ke tempat dimana pria itu seharusnya tinggal, dan tersenyum untuknya setiap pagi. Ke tempat dimana Chaelli berada, dan Jongin ada di sana untuknya.
Tapi tunggu, bukankah alasan kepergian Jongin adalah untuk menghindari Lee Chaelli? Bukankah itu berarti Jongin tidak ingin berhubungan dengannya, tidak ingin berada di dekatnya, dan terlibat lagi dengan penderita philopobia sepertinya? Lalu bagaimana bisa ia datang menemui Jongin begitu saja dan berlagak seolah-olah tidak terjadi apapun diantara mereka. Chaelli merasa sesak lagi. Ini tidak adil.
Kenapa cinta itu begitu rumit?
Jongin sudah kembali. Menghirup udara yang sama dengannya. Tapi saat ini Chaelli mengakui jika ia mencintainya, namun apakah Jongin masih merasakan hal yang sama?
Dua tahun rasanya waktu yang cukup untuk berkencan dengan gadis manapun yang melebihi darinya, yang tidak menolaknya sepanjang waktu, yang tidak bersengut padanya ketika ia menampilkan cengiran konyol. Dan Chaelli sangat tahu jika ia sama sekali tidak pernah memperlakukan Jongin dengan baik.
Chaelli mendesah pelan. Rasanya sudah berakhir. Ia hanya memejamkan matanya rapat-rapat, karna tidak ingin memikirkan jawaban sebenarnya.
….
“Aku ingin bekerja sebagai penulis, dan membuat buku ku sendiri”
Chaelli ingat kalimat terakhir yang ia katakan sebelum akhirnya ia menjadi seorang jurnalis. Seorang Jurnal, yang biasanya memburu sebuah berita dan membuatnya menjadi artikel yang menarik untuk dinikmati pembaca.
Ia memang memiliki bakat menulis, bahkan sejak ia masih berusia 12 tahun. Tidak ada yang istimewa tentangnya, hanya saja Chaelli bukan tipe seseorang yang mengatakan apapun yang ada di dalam kepalanya. Ia lebih suka mengatakan hal itu lewat tulisan. Memberikan sedikit jiwa dan keyakinan di setiap katanya dan akhirnya membuat seluruh pembacanya mengerti tentang pemikirannya.
Mungkin karna ayahnya adalah seorang penulis, Chaelli jadi terpengaruh untuk menyukai tulisan. Tapi sebenarnya itu lebih karna ia tipe seseorang yang sulit berbicara. Chaelli tidak bisa mengatakan perasaannya dan pemikirannya pada orang lain begitu saja. Ia tidak suka jika terlihat begitu transaparan, terlihat begitu terbuka hingga membuat dirinya menjadi lebih mudah ditebak. Satu-satunya yang ia inginkan, hanya melepaskan bebannya tanpa perlu kelihatan menyedihkan dihadapan orang banyak.
Ia menyedihkan tentu saja—dua pria yang berharga, menghilang sekaligus di dalam hidupnya. Seperti sebuah angin, yang berhembus menerpanya tanpa bisa kembali lagi. Membuatnya merasa sesak setiap kali ia bernafas.
“Astaga, aku akan terlambat”
Di waktu yang terburu-buru dalam perjalanan menuju lokasi kebakaran untuk sebuah perburuan berita, Chaelli melangkah kakinya dengan sangat cepat. Ini sebuah kesempatan yang bagus. Walaupun dalam artian yang lain ia harus prihatin pada para korban, tapi karna kecelakaan ini ia bisa merilis artikel yang bagus untuk menjadi deadline besar besok.
Chaelli memutar kepalanya ke sana kemari untuk mencari sesuatu yang bisa membawanya pergi ke tempat itu secepat mungkin. Lalu sebuah bus muncul begitu saja di depannya diwaktu yang sangat tepat, hingga membuat Chaelli nyaris berteriak kegirangan.
Sejak mengetahui jika Jongin telah kembali ke korea, Chaelli merasa seakan-akan ia telah hidup kembali. Seperti sebagian hatinya yang telah lama hilang muncul lagi, Lalu kemudian menyatu dengan sebagian hatinya yang masih tinggal hingga menjadi satu. Sebuah bongkahan hati yang utuh tanpa luka goresan. Dan walaupun Jongin sedang menghindarinya saat ini, sedang bersembunyi darinya. Chaelli merasa baik-baik saja.
Tidak apa-apa, karna ia tahu jika Jongin masih berada di dekatnya.
“Tolong berhenti di sini”
Suara itu terasa begitu dekat di telinganya. Chaelli menengok, mendapati seorang pria berjaket biru hitam berjalan menuju pintu keluar dan tersenyum hangat pada pengemudi bus. “Terimakasih”
Chaelli membeku.
Rasanya dunia berhenti berputar. Jarum jam tidak lagi berdetak. Dan seluruh oksigen pergi meninggalkannya. Pelan-pelan ia menoleh ke arah trotoar dan melihat bagaimana cara pria itu berbalik dan melanjutkan langkahnya.
Itu Jongin! Pria berjaket biru hitam dengan senyuman hangat itu, Kim Jongin yang selama ini ia rindukan. Tapi tidak ada yang bisa Chaelli lakukan selain menatapnya lekat-lekat dan membiarkannya menghilang lagi dari pandangannya. Dari pikirannya. Dari hatinya hingga ia menyadari satu hal yang penting.
Itu sebuah kesempatan. Satu kesempatan yang diberikan oleh Tuhan untuk membuat Jongin kembali bersamanya.
….
“Nona Lee” Chaelli membuka matanya, dan ia baru saja mendapati jika dirinya sedang berada didalam rapat redaksi bulan ini. “Apa anda baik-baik saja?”
Chaelli tersenyum gugup. Lalu kemudian ia merapikan kemeja coklatnya yang kelihatan kusut dengan gerakan cepat. “Aku baik. Sangat baik”
“Mungkin sebaiknya kau tinggal lebih lama lagi di rumah sakit. Aku rasa cedera kepalamu masih memerlukan tahap pemulihan” mendengar kata cedera membuat Chaelli tiba-tiba meringis. Baru tiga hari yang lalu ia mendapat kecelakaan mobil, tentu saja karna Kim Jongin yang tiba-tiba mengalihkan pikirannya pada kecepatan 60 km. Membuatnya harus terbaring di rumah sakit yang sepi, dan mengisi hari-harinya hanya dengan memikirkan pria itu. Menambah rasa sakit di kepalanya. Memperparah cederanya. Benar-benar sebuah penderitaan.
“Saya rasa anda seharusnya mengambil cuti saja” kata seorang staff dengan nada prihatin. “Sudah beberapa bulan ini anda bekerja terlalu keras untuk perusahaan. Sekali-kali, anda juga harus menikmati hidup.”
Chaelli menghela nafas dalam-dalam. Cuti sama sekali bukan ide yang bagus. Jika nanti ia benar-benar cuti, apa yang bisa membuat pikirannya teralih dari pria menyebalkan bernama Kim Jongin itu? “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku baik-baik saja tanpa cuti” sahut Chaelli dengan penuh penekanan. “Sungguh”
“Tapi..”
“Aku mohon, biarkan aku tetap bekerja”
Semua orang yang berada di ruangan itu saling berpandangan satu sama lain. Lee Chaelli memang terkenal keras kepala. Tidak ada yang bisa menang jika mereka sudah berhadapan dengan argumen-argumen Chaelli yang logis dan panjang. Tapi untuk sesuatu yang penting seperti ini, seharusnya ia tidak berkeras seperti itu. Tidak ada perusahaan manapun yang berani mengambil resiko mempekerjakan pegawai yang sedang sakit. Itu bisa berarti peningkatan pajak, resiko eksploitasi pekerja dan hal lain yang sangat mengerikan untuk dibayangkan. Bagaimana pun juga Chaelli harus mengambil cuti hari ini. Harus, dan ia sama sekali tidak bisa menolak.
“Maaf nona Lee, tapi kami tidak bisa membiakanmu bekerja dengan keadaan seperti ini. Setidaknya sampai kesehatanmu kembali normal, dan seluruh perban di kepalamu telah hilang seluruhnya”
….
Chaelli berjalan-jalan sendirian di pusat kota Seoul yang hampir mencapai puncak musim semi. Suasana yang hangat, cerah dan segar tercium kemana-mana. ia tahu perasaan musim semi yang seperti itu karna ia mempelajarinya dari Jongin. Pria itu seperti seluruh musim baginya.
Ketika Jongin menari dengan sayapnya yang tidak terlihat, Chaelli merasa seperti sedang berada di negri dongeng yang dipenuhi hamparan salju di sekelilingnya. Ketika Jongin menampilkan cengiran bodoh tanpa rasa bersalah, Chaelli merasa seperti sebuah sinar matahari yang membias di depan wajahnya. Ketika Jongin mulai merayunya dengan sejuta kalimat penggoda, Chaelli merasakan kenyamanan dan kedinginan yang sama seperti musim semi. Lalu ketika Jongin mengatakan kata ‘aku menyukaimu’ berulang kali dihadapannya..
Chaelli merasa bahagia. Merasa cerah dan hangat dalam sekali waktu seperti musim semi saat ini. Entah bagaimana Jongin melakukan semua itu untuknya. Pria itu, Chaelli benar-benar tidak memiliki kekuatan lagi untuk menolak perasaannya. Ia mencintainya. Merindukannya. Sebanyak apapun yang bisa ia berikan.
Lalu tiba-tiba ia menyadari jika air perlahan-lahan membasahi kepalanya. Hujan turun di saat yang tidak ia harapkan. Semua orang berlari sambil mengangkat tas tangan mereka untuk menutupi kepala. Berlindung ke tempat yang beratap sambil merapatkan kedua tangan untuk menghangatkan tubuh. Tapi untuk saat ini Chaelli hanya membiarkan seluruh tetesan itu membasahi wajahnya, menyamarkan seluruh air matanya yang meleleh perlahan-lahan.
Sialan, ia begitu merindukan pria itu melebihi apapun. Sudah lebih dari seminggu sejak pertemuan terakhir mereka, dan sama sekali tidak ada kabar yang terdengar tentangnya. Dimana tempat tinggal pria itu? apa yang sedang dilakukannya? bagaimana dengan karir menarinya? apa yang membuat Jongin tiba-tiba memutuskan untuk pergi? Dan banyak pertanyaan lainnya yang memenuhi otak Chaelli tanpa bisa terjawab. Lalu tiba-tiba ia ingat tentang Mina yang menyuruhnya untuk melupakan Jongin.
Melupakan Jongin? itu sulit. Tapi ia harus melakukannya. Bagaimana pun juga, Berhenti memikirkan pria itu dan menjalani hidupnya seperti manusia normal lainnya adalah satu-satu yang bisa ia lakukan. Lagipula apa yang selama ini ia harapkan? Jongin datang menemuinya dan menyatakan cinta lagi padanya?
Astaga, itu terjadi dua tahun yang lalu. Lagipula siapa yang bisa menjamin jika Jongin tidak muak melihat dirinya sebagai philopobia yang ‘pernah’ memberikan kesempatan padanya untuk menunggu. Satu-satunya yang harus disalahkan saat ini adalah dirinya sendiri. Seseorang yang menolak mati-matian tentang perasaannya, seseorang yang memberikan Jongin harapan yang begitu banyak hingga pria itu memilih pergi darinya—hanya untuk Chaelli, agar perasaan mereka tidak saling terluka.
….
Hari ini adalah salah satu hari terbaik dalam hidupnya, ketika Chaelli telah memutuskan untuk melupakan Jongin sepenuhnya tanpa perlu menengok masa lalu lagi. Banyak hal yang telah terjadi akhir-akhir ini. Promosi jabatan sebagai kepala redaksi, Artikelnya muncul dan menjadi headline sebagai yang paling banyak dibaca, juga yang paling penting yang menjadi impiannya selama ini adalah merilis sebuah buku. Akhirnya setelah bertahun-tahun ia mengajukan naskahnya, ada sebuah penerbit yang tertarik dan bersedia mencetak bukunya beberapa bulan lagi.
Chaelli tersenyum senang, sambil menikmati aroma roti panggang yang aromanya menyerebak kemana-mana. Belum pernah ia terlihat sesantai ini sebelumnya. “Aku pesan cream chocolate cake dan satu cangkir cappucino” ucapnya riang sambil berlalu begitu saja dan duduk di bangku yang kosong di dekat jendela.
Ia ingat, ini adalah kafe Bobby Jo tempat dimana ia pertama kali bertemu dengan Kim Jongin yang saat itu menjadi penari kortemporer dengan topeng yang melekat di wajahnya. Chaelli mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu yang tampak tidak berubah sama sekali. Wallpapernya, susunan kursi dan mejanya, papan menu yang ditempel besar-besar, juga aromanya yang masih tetap sama. Semuanya terasa sama, hampir. Karna tidak ada lagi bayangan Kim Jongin—atau Kyjee yang biasanya menggerakkan seluruh tubuhnya di atas panggung dan membuat semua orang terpana. Ada sesuatu yang hilang.
“Pesanannya, silahkan” Chaelli berbalik, lalu perlahan-lahan senyumnya menghilang ketika ia mendapati seseorang dihadapannya yang membawa secangkir cappucino dan sepotong cream chocolate cake dengan senyum seperti matahari. “Jong.. in?”
TBC
….
Pyuhhhhhhhh -_- apalah arti menulis kalo udah ngebut. See ya!

Advertisements

One thought on “Let Me Part 9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s