Let Me Part 10

Let Me
Cast : Kim Jongin, Lee Chaelli (OC) // Romance // Chapter // PG-14
Summary :
Can you let me to hold your hand and keep your love?
-sundaymonday-


Pertemuan Kedua.
Chaelli tidak pernah membayangkan jika hari seperti ini akan datang. Hari ketika ia dan Jongin duduk bersama di sebuah kafe sambil menebak pikiran masing-masing melalui sebuah tatapan. Matanya masih tetap sama. Coklat, kecil dan sedikit menyipit setiap Jongin menggerakkan bibirnya. Persis sama seperti mata anak anjing yang menemukan induknya, dan Chaelli sangat tahu jika ia merindukan tatapan itu. Tapi untuk saat ini, detik ini, ketika mereka saling memperebutkan udara yang sama. Rasanya Chaelli tidak begitu yakin jika Jongin benar-benar nyata. Ia takut jika saat ini otaknya mulai tidak waras hingga akhirnya membuat sebuah ilusi tentang Jongin. Chaelli takut, jika Jongin yang berada di hadapannya adalah sebuah ilusi.
“Hai.” Jongin tiba-tiba berbicara, mencoba mengakhiri kecanggungan diantara mereka. “Bagaimana kabarmu?” Chaelli diam tidak bergerak, tidak bersuara, juga tidak bernafas selama beberapa detik. Pria itu telah menghilang selama dua tahun lebih dan hal pertama yang ia katakan hanya ‘hai’. Yah, kau memang pria brengsek. Kim Jongin.
“Aku baik-baik saja.” Itu Bohong. Tidak ada yang baik-baik saja tentang dirinya. Semuanya buruk, terutama hatinya.
“Aku senang kau baik-baik saja.” sahut pria itu.
Lalu Chaelli diam lagi. Ia tidak bersuara, tidak bisa. Suaranya tercekat begitu saja di tengah tenggorokannya. Tidak ada suara apapun yang terdengar, walaupun ia sudah berusaha keras mengeluarkannya. Hanya air mata yang perlahan-lahan menetes hingga membasahi sebagian pipinya.
“Apa yang membuatmu pergi begitu saja?” tanyanya tiba-tiba dengan suara parau. “Walaupun aku menganggumu, atau bahkan kau sudah muak dengan penolakanku sekalipun. Kau tidak seharusnya pergi begitu saja. Kau tidak boleh pergi. Bukankah kau sudah berjanji untuk menungguku?” tiba-tiba saja Chaelli merasa sesak lagi pada bagian dadanya. Tadinya, ia kira ia sudah kehilangan Kim Jongin selamanya. Tapi nyatanya saat ini pria itu ada dihadapannya, tersenyum kecil padanya sambil menyodorkan sebuah sapu tangan berwarna coklat polkadot padanya. Benar-benar sebuah keajaiban.
“Ketika kau memberitahuku tentang philopobia-mu, itu sama sekali tidak mengangguku.” kata Jongin pelan sambil membantu Chaelli mengusap air matanya. “Bahkan ketika aku tahu kau menolakku untuk terakhir kalinya. Aku masih bersedia untuk berada disisimu dan menunggu perasaanmu. Tapi..” tiba-tiba saja Jongin tertawa lirih. Begitu lirih hingga suaranya terdengar seperti desahan yang panjang. “Ada sesuatu tentang diriku yang tidak kau ketahui.”
Chaelli menggertakkan giginya. “Beritahu aku.” ucapnya dengan tegas. “Kau adalah orang yang menyukaiku, bukan? Kau harus memberitahuku segala hal tentang dirimu agar aku bisa menilainya dengan baik.”
“Aku menyukaimu? Ah, tidak. Tepatnya, aku pernah menyukaimu.” Jongin mengerjap sesekali hingga kemudian ia menggaruk hidungnya yang memerah. “Apakah kau akan berhenti menolakku, jika aku memberitahumu tentang kebenarannya?”
Jongin tersenyum. “Ayolah, aku hanya ingin tahu.”
“Jika aku bilang aku mencintaimu, apa kau akan memberitahuku?” tak sepatah kata pun terdengar dari bibir Jongin setelahnya. Pria itu hanya menatap wajah Chaelli lekat-lekat tanpa berusaha mengatakan apapun.
Sampai ia mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Chaelli. Perlahan-lahan hingga akhirnya bibir mereka saling menempel. Bibir Jongin menciumnya dalam waktu persekian detik, sebelum pria itu kembali pada posisi duduknya. Rasanya lembut dan pahit—karna Jongin baru saja mengesap secangkir americano. Tapi daripada semua itu, Chaelli sama sekali tidak keberatan tentang Jongin yang tiba-tiba menciumnya. Lalu pria itu menyadarinya, jika kini Chaelli sudah menerima perasaannya.
“Kau mencintaiku.” Entah kenapa kata-kata itu terdengar sangat lirih ketika Jongin mengucapnya. Harusnya ia senang jika gadis yang dicintainya telah mengakui perasaannya. Tapi kenapa sekarang hal itu seakan-akan membebaninya. “Astaga, bagaimana ini..? Kau benar-benar mencintaiku, Lee Chaelli.”
Jongin tertawa tanpa suara sambil memegangi keningnya. Membuat Chaelli yang berada di hadapannya mengeratkan alis, tidak mengerti. Apa-apaan dia? Setelah ia mencium seorang gadis seenaknya, ia lalu berlagak seperti orang bodoh yang tidak tahu harus berbuat apa? Astaga, kau benar-benar Kim Jongin. “Aku memang mencintaimu. Jadi cepat katakan padaku apa yang membuatmu tiba-tiba menghilang begitu saja!”
Jongin tidak ingin menatap mata Chaelli saat ini. Ia hanya bisa menyembunyikan bibirnya yang bergetar di balik cangkir americano yang hampir seluruhnya kosong. Lalu kemudian ia menurunkan gelas itu kembali sambil bergumam lirih.
“ Tentang kau yang mencintaiku. Aku sama sekali tidak ingin mendengarnya lagi.” ucapnya dengan suara sumbang. “Aku tidak tahu apa aku masih pantas.”
“Apa maksud—Oh, Tidak. Jangan mengada-ada. Memangnya apa yang membuatmu tidak pantas?”
Jongin mengangkat wajahnya dan menatap Chaelli dengan kristal air mata yang sudah menggantung dimana-mana. “Aku sakit.” Sahutnya seperti orang yang berbisik. “Sangat parah.”
Lalu kemudian hening hingga Jongin bersuara lagi.
“Kanker tulang.”
Chaelli tersentak dan memucat begitu saja ketika mendengar kata-kata Jongin. Lagi-lagi ia merasa seperti seluruh dunia sedang berusaha untuk mengkhianatinya. Saat ini Kim Jongin telah kembali. Duduk di hadapannya dan bahkan baru beberapa menit yang lalu mereka sempat berciuman. Tapi kenapa tiba-tiba Jongin mengatakan hal aneh yang membuatnya takut setengah mati seperti ini?
“Aku tahu kau tidak benar-benar serius dengan ucapanmu.”
“Chaelli, kau tidak bisa lagi mencintaiku. Tidak ada lagi yang bisa kutawarkan padamu.”
Lalu seketika itu Chaelli tidak bisa mengatakan apapun selama tiga puluh menit dari sisa pertemuan mereka. Mungkin karna rasa keterkejutannya yang begitu tiba-tiba, atau bisa jadi karna ia menganggap semua ini mimpi yang biasanya muncul ketika ia begitu merindukan Jongin. Tapi mata Jongin yang menatapnya sendu, juga air mata yang saat ini membasahi pipinya terasa begitu nyata untuk sebuah mimpi.
Jongin yang mengidap kanker tulang.
Jongin yang sekarat.
Jongin yang.. Oh, sudahlah.
Saat ini ia bertanya-tanya kenapa hidupnya harus berakhir seperti sebuah melodrama yang sering diputar di televisi. Sebuah drama dimana pemain utamanya mengidap suatu penyakit kronis, dan akhirnya membuat drama itu menjadi sangat menyedihkan karna salah satu pemainnya berakhir dengan kematian. Dan saat ini, Jongin yang akan mati karna ia terpilih sebagai pemain utamanya. Jongin akan mati, karna ia telah memilih pria itu sebagai pemain utama dalam hidupnya.
Tapi ia tak bisa menangis lagi ketika akhirnya Jongin berjalan menghampirinya dan memeluknya dari arah belakang. Pria itu membisikkan beberapa kata. Entahlah. Chaelli tidak begitu yakin apa yang dikatakannya saat ini. Semuanya, tidak penting lagi sekarang. Jongin sakit parah itu kenyataannya, lalu perlahan-lahan pria itu akan menghilang dari sisinya selamanya. Membuat Chaelli menghabiskan sisa hidupnya hanya untuk menangisi Jongin. Pria yang mencampakkannya begitu saja, dengan alasan kematian.
“Hari ini, hanya biarkan aku yang mencintaimu seorang diri.”
….
Sebuah Janji.
Berdiam diri di kamar, berpura-pura menjadi mayat di atas ranjang adalah satu-satunya yang Chaelli lakukan ketika ia mendapat tekanan. Persis setiap kali ia bertengkar dengan ibunya, setiap kali ia kesulitan menulis artikel, setiap kali ia merindukan Kim Jongin, si pria brengsek itu.
Tapi beberapa hari ini ia hanya tidur selama lima belas menit sepanjang malam. Berharap jika hari itu—ketika Jongin mengatakan tentang dirinya yang sekarat adalah mimpi buruk. Tapi nyatanya, lebih dari itu. Malam tadi ia malah mendapatkan sesuatu yang lebih buruk lagi. Bermimpi tentang kematian Jongin, tentang bagaimana ia menangisi Jongin, tentang pemakaman Jongin juga hal mengerikan lainnya yang perlahan-lahan membuat otaknya semakin menggila.
“Oh, kau sudah datang?” Chaelli menegakkan kepalanya ke arah pintu masuk, dan mendapati Jongin sedang mengintip melalui celah pintu. “Masuklah, aku baru selesai membuat roti panggang” katanya sambil tersenyum dan membuka pintu lebar-lebar.
Sudah beberapa hari ini ia datang mengunjungi apartement itu. Apartement Jongin bernomor 0114, yang di bagian pintunya dipasangi rangkaian ranting pinus bekas ornamen natal. Dan entah kenapa, saat ini ia merasa gugup karna suatu hal. Mungkin karna hari ini ia berniat untuk mengiterograsi Jongin. Yah, ia benar-benar akan menginterograsinya seperti seorang polisi.
Chaelli memasuki apartement Jongin perlahan-lahan, sambil menikmati aroma roti bakar yang masih tersisa. Tak ada yang bicara selama lebih dari sepuluh menit, hingga akhirnya Jongin mengakhiri kecanggungan itu dengan menarik kursi yang berada tepat disebelahnya.
“Kau boleh duduk di sini” ucapnya lembut. “Aku tahu ini sedikit terlambat dan keterlaluan. Tapi aku sama sekali belum minta maaf karna sudah meninggalkanmu.”
Saat ini Jongin mengenggam tangannya di bawah meja, lalu setelah itu suaranya berubah menjadi sangat parau. “Maafkan aku, Lee Chaelli.”
Chaelli masih terpaku di tempatnya saat ini. Kenapa harus..? Astaga. Walaupun ia merutuki pria itu berkali-kali disetiap nafasnya, tapi sungguh, Chaelli tidak bisa membencinya sama sekali. Sampai saat ini, ketika ia menatap wajah Jongin lekat-lekat dengan kedua matanya yang membulat. Chaelli tahu. Sangat tahu jika ia tidak bisa kehilangan pria itu sekali lagi.
“Juga.. maaf karna penyakitku ini.” suaranya terdengar lebih parau lagi. “Kau mengerti bukan, jika akhirnya aku tidak pantas untukmu?”
“Kau bodoh!” Chaelli langsung melompat dari kursinya dan memeluk Jongin dengan sangat erat. Ia tidak peduli lagi tentang Philopobianya, atau egonya untuk tidak jatuh cinta pada laki-laki manapun di dunia ini. Semua itu tidak penting. Bahkan apapun yang menjadi ‘pantas’ dan ‘tidak pantas’ untuknya. Apapun. Karna yang paling berharga saat ini hanya Jongin berada di sampingnya. Memeluknya dengan sangat erat hingga nafas mereka saling tersenggal-senggal. “Kau yang paling pantas mencintaiku, jika itu orang lain aku tidak mau.”
Jongin melepas pelukan mereka, dan mundur sedikit untuk melihat bagaimana wajah Chaelli saat ini. Yah, dia terlihat berantakan. “Kau pantas bahagia, Chaelli. Jika itu aku, maka kau tidak akan pernah sembuh dari phobiamu itu. Aku akan seperti ayahmu yang pergi mencampakkanmu. Lalu kau akan terus-terusan berpikir jika jatuh cinta itu pasti akan berakhir menyakitkan. Aku tidak ingin kau menjalani hidupmu seperti itu.”
“Apa yang penting sekarang?” Chaelli tertawa, tapi air matanya tetap mengalir turun melalui pipinya. “Kau sudah mencampakkanku selama dua tahun ini, ingat? Jadi, aku akan tetap baik-baik saja walau kau melakukannya lagi.”
Jongin menyelipkan lengannya ke lekukan siku Chaelli dan menarik tubuhnya perlahan-lahan agar bibir mereka bisa bersentuhan. Ciuman ketiga. Jongin menempelkan bibirnya pada bibir Chaelli tanpa sedikit pun melumatnya. Ia hanya menciumnya, itu saja. Dan kali ini rasanya manis seperti selai coklat di pagi hari.
“Aku akan melakukan apapun untuk bisa bersamamu. Dan lagipula, bukan aku yang mencampakkanmu.”
Chaelli tertawa pelan, lalu kemudian ia memeluk Jongin lagi sambil setengah berbisik “Kau benar, bukan kau tapi aku yang mencampakkanmu. Maka berjanjilah jika kau akan sembuh, agar bisa membalasku suatu saat ini.”
Jongin mengangguk. Ia tidak mengatakan apapun lagi, dan hanya menikmati pelukan Chaelli yang perlahan-lahan menghangatkan hatinya.
….
“Jadi, dimana kau bersembunyi selama ini?” tanya Chaelli sambil meminum colanya dan mengambil beberapa genggam popcorn ketika mereka sudah duduk di sofa yang sama. “Maksudku, apa saja yang kau lakukan?”
Jongin merentangkan kedua tangannya di belakang punggung Chaelli, sambil terus menerus memencet tombol remote untuk mengganti siaran televisi. “Jepang. Ada beberapa pengobatan yang kulakukan di sana.”
Chaelli menghela nafasnya dalam-dalam, lalu kemudian wajahnya memucat ketika Jongin tidak melanjutkan kalimatnya. “Apa itu berhasil?”
“Sebagian berhasil, dan sebagian lainnya tidak. Mereka bilang aku butuh tinggal lebih lama untuk melanjutkan pengobatan.” ucap Jongin sambil tersenyum sendiri. Senyuman bodoh miliknya, yang kini tidak lagi terlalu cerah seperti matahari pagi. “Tapi aku menolaknya, dan memilih kembali kemari.”
Alis Chaelli berkerut-kerut. Ia mulai membenarkan posisinya dengan menegakkan punggungnya ke atas sandaran sofa. “Dan aku harap itu bukan karna diriku.”
“Tentu saja, itu karna dirimu. Aku begitu merindukanmu sampai-sampai aku menganggap bulan adalah wajahmu.” Chaelli mengerjap, dan mendongak menatap wajah Jongin yang saat ini berada lebih tinggi darinya.
“Itu rayuan yang murahan, Jongin.” sahut Chaelli dengan setengah menggerutu. “Dan aku benci saat kau bilang kau menghentikan pengobatanmu hanya karna diriku.”
Jongin tidak membantah. Ia hanya menggenggam sebelah bahu Chaelli sambil tersenyum minta maaf. Senyuman itu.. astaga, ia benar-benar memiliki bakat untuk membuat orang lain tersentuh dengan bujukannya.
“Kau akan sembuh. Itu adalah perjanjian kita.”
“Aku tidak ingin meninggalkanmu lagi.” Jongin menggigit bibirnya, hingga kemudian wajahnya benar-benar memerah. “Lagipula, aku bisa menjalani pengobatan di sini.”
“Bagaimana jika aku benar-benar memaksamu untuk kembali ke Jepang?”
“Aku tidak akan pergi.”
“Maka, aku akan segera memesankan tiket pesawat untukmu.” kata Chaelli dengan mengabaikan kalimat Jongin setelahnya.
“Aku tetap tidak akan pergi.”
“Tidakkah kau tahu jika berada di samping orang yang sekarat itu menyebalkan? Aku tidak mau melihatmu mati di hadapanku, Kim Jongin!”
Mereka berdebat lagi. Kali ini soal siapa yang lebih dulu menyerah tentang Jongin yang harus pergi ke Jepang atau tidak. Tapi kenyataannya lebih dari itu. Keduanya hanya tidak ingin saling meninggalkan satu sama lain. Jongin terlalu takut untuk berpisah lagi, dan akhirnya menjadi akhir untuk hubungan mereka yang rumit ini. Ia tidak ingin pergi kemana pun. Tidak disaat seperti ini, ketika ego mereka masih mendominasi.
“Tak bisakah kau membiarkanku melakukannya di sini? Aku tidak ingin merasa kesepian saat aku benar-benar sekarat nanti.” Jongin menekan setiap kata yang ia keluarkan. Begitu lirih, hingga membuat Chaelli tiba-tiba merasa bersalah karna kalimat terakhirnya.
Jongin ingin bersamanya. Ia tidak ingin sendirian di hari-hari sulitnya. Lalu kenapa ia harus bersikap begitu egois tentang perasaannya sendiri? Jongin membutuhkannya sebanyak ia membutuhkan pria itu agar tetap hidup.
“Ya.” jawabnya sambil sedikit berbisik. “Maafkan aku karna merasa egois untuk diriku sendiri.” Chaelli menelan salivanya. Hanya sebuah kalimat sederhana yang bisa ia utarakan saat ini.
………..
TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s