Let Me Part 11

Let Me
Cast : Kim Jongin, Lee Chaelli (OC) // Romance // Chapter // PG-14
Summary :
Can you let me to hold your hand and keep your love?
-sundaymonday-


“Hei, pasangan baru!”
Sebuah suara terdengar dari belakang tengkuk Chaelli, dan ia baru tersadar setelah Mina menepuk punggungnya pelan sambil memberengut. “Apa-apaan ini. Kalian sudah satu bulan menjalin sesuatu, dan baru sekarang kau memberitahuku? Sahabat macam apa dirimu!” serunya sambil sedikit berteriak dengan wajah berkerut-kerut.
Sementara Choi Mina sedang marah-marah di hadapan Chaelli, Kim Jongin hanya tertawa renyah melihat pemandangan itu. Tapi itu tidak membuatnya ingin mengatakan apapun untuk membuat suasana lebih kacau lagi. Cukup gadisnya saja yang menyelesaikan masalah ini. Dan lagipula ini adalah masalah wanita. Semua pria di dunia ini tidak boleh ikut campur dalam masalah wanita.
“Aku tidak bisa memberitahumu lebih awal karna beberapa hal.” Chaelli mencoba membujuknya untuk duduk, sambil terus tersenyum kecil. “Kami akan mentraktirmu sebagai permintaan maaf.”
“Kalian akan, apa? Oh, Astaga. Kau pikir aku akan berhasil dengan sogokan semacam ini?” Mina masih tetap terlihat kesal hingga alisnya berkerut-kerut. “Kau tahu seberapa khawatirnya aku tentang kalian? Tentang kau yang tiba-tiba sulit dihubungi dan laki-laki payah ini yang ternyata sudah kembali. Aku malah berpikir jika kalian sedang berusaha membunuh satu sama lain.” semua kata-kata Mina rasanya terlalu berlebihan. Saling membunuh..? yang benar saja, saling membunuh dengan cinta maksudnya? Oh, imajinasi liar itu membahayakan.
“Berhentilah mengoceh tentang hal-hal gila di dalam otakmu.” sahut Chaelli “Kau tahu kami bahkan tidak bisa saling melukai, karna cinta kami.” katanya lagi dengan sedikit tersipu.
Membuat Jongin tersedak ketika ia mengesap kopinya. Sementara Mina hanya membisu sambil menatapnya tajam. Ia bersumpah jika itu adalah kalimat paling murahan yang pernah ia dengar selama hidupnya. Dia Lee Chaelli, sahabatnya yang lebih dingin dari sebongkah es di Kutub Utara. Gadis yang dulu bahkan sempat mengumpat tentang Jongin ketika pria itu memintanya menyebutkan nama. Gadis yang mengidap philopobia akut karna ia bersumpah tidak ingin jatuh cinta pada siapapun. Dia, Lee Chaelli yang dulu menjadi musuh semua pria di dunia ini. Lalu, bagaimana bisa ia tiba-tiba mengatakan hal paling tidak masuk akal seperti.. Oh, Mina rasa Jongin sudah meracuni sebagian otaknya.
“Kau sudah gila.”
Chaelli mengangkat bahu. “Gila karna cinta itu menyenangkan, Choi Mina” Mina kemudian terkekeh geli, lalu memandang kedua orang itu secara terpisah. Ia tersenyum puas. Saat ini, keadaan Chaelli terasa jauh lebih baik. Gadis itu tidak lagi uring-uringan, atau melamun sepanjang hari. Itu karna Jongin telah kembali. Membawa seluruh tawa ke atas meja ini, ketika mereka menikmati sepotong cheese cake dan secangkir Chocolatte hangat. Tidak ada yang lebih membahagiakan lagi seperti saat ini.
Mina tertawa, Chaelli tertawa, dan Jongin tertawa beberapa menit setelah ia selesai dengan leluconnya yang konyol. Semua hal menyenangkan ini begitu memabukkan. Memberikan refleksi yang lain tentang kenyataan sebenarnya, hingga tidak ada satu pun dari mereka yang mampu mengingatnya. Karna sungguh, tidak ada yang mampu mengetahui kenyataan apapun yang akan menimpa mereka esok hari.
Mungkin saja Jongin akan mencium bibir Chaelli lagi seperti pagi ini. Mungkin saja Mina akan menemukan pasangan hidupnya di sebuah halte bus. Mungkin saja tawa mereka akan terus terdengar hingga esok hari. Tidak ada yang tahu. Satu orang pun. Dan hal itu membuat Chaelli lupa jika mereka masih memiliki sesuatu yang lain.
Penyakit Jongin.
Dan ketika hal itu benar-benar terjadi, maka seluruh tawa mereka saat ini akan berubah menjadi sebuah tangisan yang dalam.
Tiga minggu setelah mereka menikmati kopi bersama di kafe Bobby Jo. Kim Jongin ambruk secara tiba-tiba. Ia di bawa ke unit gawat darurat, dan dokter bilang jika ia harus menjalani perawatan intensif mulai saat itu
….
Tarian yang Tidak Pernah Terlihat Lagi.
Dua kata itu masih bersarang di dalam otak Chaelli hingga saat ini. Sarcoma ewing. Satu jenis kanker tulang yang tidak diketahui asalnya.Tapi mereka bilang penyakit itudimulaipadajaringansarafdi dalamtulang. Lalu perlahan-lahan menyerang tulang belakang, hingga akhirnya akan berakhir pada otak atau paru-paru. Melumpuhkan saraf-saraf Jongin, menghentikan pernafasannya hingga akhirnya ia tidak bisa lagi membuka matanya.
Menyedihkan. Tapi yang paling parah dari semua itu adalah kenyataan jika Jongin tidak bisa menari lagi dengan kondisi seperti ini. Dokter baru mengatakannya satu setengah jam yang lalu, dan Chaelli tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Apa yang harus ia katakan pada Kim Jongin ketika pria itu telah membuka matanya dengan cengiran bodoh.
Menari adalah hidupnya. Impiannya. Segalanya untuk pria itu. Dan Chaelli tidak yakin jika Jongin akan benar-benar bertahan jika ia mendengar kenyataan tentang hal ini. Tentang ia yang tidak bisa menari lagi seumur hidup.
“Chaelli, dimana kita?” Jongin membuka matanya sambil menerawang ke sekelilingnya. Ia tahu ini bukan apartementnya, tapi ia tetap berharap jika ini bukan rumah sakit. “Apa penyakitku datang?”
Chaelli menghapus air matanya dengan sebelah tangannya. Lalu ia mencoba membuka mulutnya perlahan-lahan. Tapi hanya sebuah isakkan. Tidak ada apapun yang terdengar selain isakkan pilunya. Chaelli masih menangis. Betapa pun ia mencoba menghentikan tangisannya, air matanya tidak juga berhenti turun. Sebagian wajahnya kini basah oleh air, hingga membuat wajahnya menjadi sangat berantakan.
“Kau tidak perlu menangis. Aku berjanji akan sembuh untukmu, ingat?” kata Jongin sambil mengenggam tangannya Chaelli erat-erat. “Aku akan baik-baik saja.”
Chaelli tidak juga bersuara setelahnya. Ia hanya mengamati wajah Jongin yang memucat, dan senyuman sedih miliknya yang begitu ketara. Ia tidak sanggup, sungguh. Jongin bahkan sudah melalui banyak penderitaan karna penyakit sialan ini. Lalu kenapa ia harus kehilangan sesuatu lagi di dalam hidupnya? Kenapa harus kemampuan menarinya yang luar biasa? Chaelli merasa sangat Marah. Marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa melakukan apapun untuk membuat kondisi Jongin menjadi lebih baik.
“Jongin..” bisik Chaelli hampir seperti lirihan yang panjang. “Dokter bilang, kau tidak bisa menari lagi dan Ak-aku, tidak.. akku” Terbata. Itu kenyataan yang menyakitkan ketika ia tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
Lalu seketika itu juga Jongin kehilangan cahaya yang biasanya berkilat-kilat di depan matanya. ‘sekarang tidak ada yang tersisa untukku’ pikirnya sambil tersenyum pahit. Tidak ada yang tersisa untuknya. Habis. Seperti setoples kosong gula-gula di saat halloween.
Sementara Chaelli masih menatapnya saat ini. Menunggu Jongin siap membuka mulutnya, dan mengatakan apapun untuk membuat mereka merasa lebih baik. Jongin selalu memiliki kemampuan untuk menghibur seseorang. Ia pria yang dipenuhi lelucon. Tapi walaupun kali ini Jongin tidak mengatakan sesuatu yang lucu sekalipun, Chaelli tetap akan bersedia untuk tertawa paling keras.
“Pergilah..” Jongin balas berbisik, bersama air mata yang perlahan-lahan membasahi bantalnya. “Tinggalkan aku sendirian.”
“Jongin.”
“Aku mohon, Chaelli. Karna sungguh, rasanya aku benar-benar berharap untuk mati saat ini.”
….
Dia Seperti Menghilang.
Setelah Jongin berharap untuk mati di hadapannya, tidak ada lagi yang bisa Chaelli lakukan selain menunggu. Beberapa hari setelahnya, setelah Nyonya Kim berhasil dihubungi dan datang ke rumah sakit untuk menjaga pria itu siang dan malam. Jongin berhenti untuk menemuinya. Seperti dulu, pria itu berusaha bersembunyi darinya. Egois.
Lalu tiba-tiba Chaelli teringat saat pria itu bilang jika ia membutuhkan Chaelli untuk berada di sampingnya, untuk menemaninya di masa sulitnya, untuk membuatnya merasa tidak kesepian. Dan Chaelli ingat saat Jongin bilang ia tidak akan meninggalkan Chaelli lagi, karna kerinduan yang terasa mencekiknya. Pembohong. Nyatanya laki-laki itu tetap meninggalkannya Ah, tidak kali ini hanya mengacuhkannya. Tapi itu sama saja. Jongin tetap tidak ada di sampingnya, dan itu tetap saja membuatnya tersiksa. Lihat saja bagaimana keadaannya sekarang. Kacau dan berantakan seperti orang orang gila. Ia bahkan sudah menunggu selama berhari-hari di depan ruang ini tunggu tanpa bisa melakukan apapun. Jongin tetap tidak membiarkannya masuk. Sialan!
Chaelli menggerutu di dalam hatinya. Jongin masih saja bersikap menyebalkan bahkan ketika ia sedang sakit seperti saat ini. Benar-benar membuatnya tidak sabar untuk mendobrak pintu kamar itu dan masuk begitu saja tanpa perasaan bersalah.
“Oh, kau masih di sini?” Itu suara nyonya Kim yang memanggilnya. Wanita tua yang memiliki mata yang sama dengan Jongin. “Bukankah aku sudah menyuruhmu pulang dan beristirahat? Jongin akan sangat marah jika ia tahu kau masih berada di sini.”
Nyonya Kim tidak sedang tersenyum saat ia berbicara dengannya. Entah kenapa, hal itu tiba-tiba membuat Chaelli merasa gugup. Biasanya tidak seperti ini. Di hari yang lalu Nyonya Kim selalu bersikap ramah pada semua orang tanpa terkecuali. Tapi hari ini rasanya berbeda. “Dia masih tidak ingin bertemu denganku?”
Nyonya Kim menggeleng. “Kau harus segera pulang dan beristirahat.” Nyonya Kim tidak juga tersenyum setelahnya. Ia hanya menatap wajah Chaelli lekat-lekat, lalu kemudian mencoba merogoh sesuatu yang berada di dalam saku jaketnya. “Maaf karna tiba-tiba ia merajuk seperti anak umur lima tahun seperti itu. Tapi percayalah Challie, ini sangat berat untuknya. Menari adalah hidupnya. Jadi..”
“Ak-aku tahu..” jawabnya parau, sambil menghapus air mata yang mulai membasahi pipinya. “Tapi aku hanya tidak mengerti kenapa ia menghindariku.”
Nyonya Kim tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menyodorkan sebuah kertas putih yang dilipat menjadi segitiga ke arah Chaelli. Lalu gadis itu tampak ragu-ragu ketika jemarinya menyentuh kertas itu. Begitu dingin, dan ia tahu jika itu adalah sebuah surat. Jongin yang menulisnya, mungkin. Chaelli memejamkan mata, lalu kemudian ia membayangkan wajah pucat pria itu dengan senyumannya yang seperti matahari. Ah, ia begitu merindukannya.
Chaelli membuka lipatan itu satu persatu hingga menyerupai selembar kertas persegi panjang utuh. Ia membacanya. Beberapa kalimat yang ditulis miring-miring yang di beberapa sisinya terasa basah.
Kau tidak perlu khawatir. Hari ini, aku masih tetap mencintaimu seperti kemarin.
….
Jongin membuka matanya yang terasa berat, lalu mendesah pelan ketika sinar matahari mulai menyinari sebagian wajahnya. Pagi. Lagi-lagi matahari datang lebih awal dari perkiraannya. Menyebalkan. Itu artinya ia harus bangun, dan mendapati kenyataan jika gadis itu masih berputar di dalam pikirannya.
Jongin turun dari ranjang. Lalu berjalan ke arah pintu masuk untuk mengintip. Tidak ada. Chaelli tidak datang. Ah, tepatnya Chaelli tidak pernah datang lagi sejak hari itu. Sejak terakhir kali ia membaca suratnya sambil menangis dengan suara pilu. Tidak—tidak pernah ada lagi Chaelli yang menunggunya di depan ruang tunggu. Tidak ada. Dan harusnya Jongin merasa lega jika gadis itu tidak pernah lagi menunggunya. Jadi, ia tidak perlu repot-repot membuat alasan untuk menghindarinya, atau ia tidak perlu lagi merasa terbebani. Chaelli tidak ada di sini. Gadis itu tidak menunggunya, dan entah kenapa tiba-tiba Jongin merasa kesepian.
“Kau sudah bangun?” Belum sempat ia berbalik menuju ranjangnya, Nyonya Kim sudah berada tepat di belakangnya sambil membawa sekeranjang buah apel. “Kau merasa baik hari ini?” tanyanya ramah sambil menyodorkan sekeranjang apel itu ke arah Jongin. “Dokter Park bilang apel baik untuk kesehatanmu.”
Jongin hanya diam, lalu termenung seperti orang yang memiliki dunianya sendiri. Pikirannya tidak ada di sana. “Ada apa, Jong? Apa kau juga ingin menghindari apel merah?”
Pertanyaan Ibunya tiba-tiba membuat Jongin tersentak. “T-tidak, bukan begitu. dan lagipula memang apa yang sedang ku hindari?” Jawabnya gugup. Saat ini ia mencoba mengelaknya. Segala hal tentang kenyataan jika ia menolak keberadaan Chaelli di sampingnya.
Nyonya Kim tersenyum. Lalu ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan sambil mengangkat bahu. “Baiklah. Anggap saja Ibu tidak tahu tentang apa yang sedang kau hindari.” Lalu suasana kembali hening sampai Nyonya Kim melanjutkan kalimatnya. “Tapi aku mohon padamu untuk berhenti menghindarinya. Berhenti membuatnya menjadi frustasi dengan cara seperti ini. ”
Jongin hanya diam. Wajahnya perlahan-lahan memucat mendengar kata-kata Ibunya. Itu tentang Chaelli, tidak salah lagi. Seseorang yang sedang dibicarakannya saat ini adalah Lee Chaelli, gadis yang ia cintai. Lalu ketika ia sadar jika ada hal buruk yang sedang terjadi, Jongin cepat-cepat menegakkan kepalanya untuk bertanya melalui tatapan mata.
“Chaelli..” kata-kata itu tercekat begitu saja di dalam tenggorokannya. Jongin tidak berani bersuara. Ia takut—sangat takut jika sesuatu yang akan ia katakan adalah sebuah kenyataan. Tentang ia yang membuat hidup Chaelli menjadi sangat berantakan seperti saat ini. Tentang ia yang harusnya tidak pernah kembali di kehidupan gadis itu. Tentang ia yang.. tidak bisa menari lagi untuknya.. Itu menyedihkan.
Dan setelah Nyonya Kim tersadar jika ia tidak boleh terlibat terlalu dalam pada hubungan keduanya. Ia hanya menarik nafas panjang, lalu kemudian berkata pelan hingga hampir menyerupai bisikan.
“Tidak ada yang perlu kau khawatirkan lagi, tidak ada yang perlu kau hindari. Ibu tahu gadis itu mencintaimu apa adanya.”

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s