In Heaven : In the Past (I)

time_1920x1200
Cast : Kyuhyun, Seohyun // PG-14 // Romance, marriage life, sad // Drabble
.
.
.
Summary :‘ dan kau tidak menyadari betapa berharganya hal itu hingga kau kehilangannya’
….

Kehilangan.
Siapa yang tidak akan menangisi hal itu? Membiarkan milikmu yang paling berharga pergi dari dunia ini tanpa bisa kau raih lagi—selamanya.
Apalagi jika ia adalah bayi kecilmu yang sangat lucu. Gadis kecilmu yang selalu tertawa riang ketika kau mencium pipinya lama-lama. Bayi kecil yang selalu terkikik bahagia ketika kau menggendongnya tinggi-tinggi seperti mode pesawat terbang.
Namanya Cho Jinri—Putri Cho kyuhyun dan Cho Joohyun. Bayi yang sangat beruntung karna memiliki mereka sebagai orang tua kandungnya, atau mungkin tidak. Nyatanya, alasan kematian Jinri sama sekali tidak bisa diterima.

Kecelakaan.
Kecelakaan fatal yang menyebabkan Kyuhyun harus memilih antara Seohyun atau bayinya.
Kenyataan itu menyakitkan. Karna sebesar apapun Kyuhyun mengatakan jika ia amat sangat mencintai bayi mungil itu, tetap saja tidak ada yang bisa ia buktikan pada dunia.
Cho Kyuhyun .. Seorang Ayah yang berulang kali mengatakan pada dunia tentang betapa ia sangat menyayangi Cho Jinri putrinya, tetap memilih Seohyun pada akhrnya. Memilih wanita yang menjadi istrinya pada hari naas itu hingga menimbulkan sebuah luka baru yang tidak bisa disembuhkan.

Luka hati untuk Kyuhyun dengan rasa bersalahnya.
Dan Luka hati untuk Seohyun dengan segala penyesalannya.
Karna kenyataan jika bayi Jinri telah pergi dari dunia ini tidak akan pernah berubah.

Semua itu berawal dari dentuman keras yang menghantam kaca depan dan bamper mobil ford itu. Kyuhyun membanting stir sambil mencoba mempertahankan kesadarannya. Keriuhan terjadi saat itu, menghujam benda hitam mengkilat besar menjadi bagian yang tidak utuh lagi. Rusak dan mengenaskan. Kaca depannya pecah, menyisakan Kyuhyun yang masih berusaha meeraih kesadarannya dan dua orang lainnya yang tidak ia ketahui keadaannya.
“Se-Seohyun.. argh..” Kyuhyun menggerang sambil memegangi erat kepalanya. Dengan gerakan refleks Kyuhyun melepas sabuk pengamannya dan menghirup udara banyak-banyak. Mobil itu hancur—membuat Kyuhyun dengan paniknya mencari tahu keadaan Seohyun beserta bayi kecilnya.
Keduanya terluka. Bahkan Kyuhyun tidak yakin jika keduanya masih hidup. Tangannya bergetar ketika membuka pintu mobil dan melepaskan sabuk pengaman—sialan-yang-tidak-berarti-dari-tubuh-istrinya itu.
Tidak ada harapan. Perlahan air mata jatuh membasahi pipinya. Ia memeluk erat wanita yang berada di dalam genggamannya.
Seohyun kritis, dan Kyuhyun tidak tahu lagi sampai kapan wanita itu bisa bertahan. Dengan gerakan cepat ia mencari-cari ponsel di dalam kantung jasnya, menelpon ambulance untuk keadaan darurat ini tanpa berpikir panjang.
Seohyun harus selamat—bagaimana pun caranya. Tidak ada satu hal pun yang bisa mengganggu pikirannya selain hal itu.
Tidak ada—hingga sebuah ledakan tiba-tiba menyeruak dihadapannya.
Mobil itu meledak—terbakar—hancur—hingga serpihan terkecil yang bisa Kyuhyun lihat dengan rasa tidak percaya. Kenyataan itu tidak berarti apa-apa hingga ia menyadari satu hal yang menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya.
Ia belum sempat menyelamatkan bayi Jinri dari ledakan sialan itu.
…..
Kyuhyun hanya duduk sambil menelengkupkan kepalanya dibawah kedua tangan. Air matanya masih belum berhenti mengalir. Ia terpuruk—hancur, bahkan balutan perban yang kini menyelimuti bahu dan kepalanya tidak juga bisa meredam perasaan sakit yang luar biasa ini.
Seohyun koma.
Dan bagian terburuknya—bayi mereka meninggal. Cho Jinri, satu-satunya putri mereka yang baru berumur satu tahun telah pergi begitu saja.
Dan semua ini karna kesalahan Cho Kyuhyun.
Pria itu berulang kali merutuki dirinya sendiri. Tentang kecerobohannya dalam mengemudi, tentang mobil sialan itu, tentang truk yang tiba-tiba berada di depannya, tentang ledakan, dan yang paling parah adalah tentang dirinya yang tidak bisa menyelamatkan bayi kecilnya.
Kyuhyun pikir mungkin rasanya lebih baik mati daripada harus menerima kenyataan ini. Dari kedua orang yang paling ia cintai, kenapa ia harus menjadi satu-satunya yang selamat dalam kecelakaan ini? Kenapa bukan ia yang terbakar dalam kecelakaan itu hingga Seohyun dan bayi mereka Jinri bisa terus hidup dan melanjutkan mimpi mereka? Kenapa?
Tapi dari seluruh pertanyaan itu Kyuhyun tetap tidak menemukan satupun jawabannya.
“Tuan Cho?” Sebuah panggilan mengintrupsinya. Kyuhyun berjalan gontai menuju ruangan tersebut.
‘kamar mayat’
Rasanya sangat sesak hingga ia kesulitan bernafas untuk beberapa saat ketika melihat sebuah guci kecil bertuliskan ‘Cho Jinri’ di bagian permukaannya.
“Saya sangat menyesal dengan apa yang terjadi” Suster itu membungkukkan badannya sambil menyerahkan guci itu padanya.
Namun Kyuhyun telah menghapus seluruh air matanya dan berpura-pura tersenyum tipis untuk terlihat tegar “Terimakasih”
….
Satu minggu telah berlalu—dan belum ada tanda-tanda jika keadaan Seohyun mulai membaik. Kyuhyun setiap waktu terus menemaninya di rumah sakit. Mengabaikan pekerjaannya, dan membiarkan rumah mereka terbengkalai begitu saja.
Setiap pagi ia hanya bisa memandangi bagaimana cara wanita itu bernafas, takut-takut jika Seohyun juga memilih pergi dari sisinya begitu saja. Tapi ia tidak pernah menyerah untuk berharap. Seohyun akan selalu bersamanya—itu pasti. Karna jika istrinya itu juga memilih pergi meninggalkannya, maka tidak ada lagi alasan bagi Kyuhyun untuk tetap hidup di dunia ini.
Tidak ada.
Walaupun diam-diam Kyuhyun berharap jika Seohyun tidak pernah membuka matanya lagi. Tetap seperti itu—tertidur tapi tidak mati. Jadi ia tidak perlu menjelaskan apapun tentang Jinri dan membuat hidup istrinya berantakan. Karna sungguh Kyuhyun tidak sanggup melihat Seohyun lebih menderita dari ini.
Tapi ketika harapan itu tidak lagi dapat terhapus. Seohyun membuka matanya perlahan-lahan. Mengintrupsi Kyuhyun dari segala lamunannya. Membuat lelaki itu tiba-tiba membelalakkan mata dan bereaksi tak tentu sambil memencet bel kamar dengan tidak sabar.
Seohyun—istrinya, wanita yang paling ia cintai di dunia ini baru saja membuka matanya. Hal itu tiba-tiba memberinya sebuah harapan hidup yang tinggi. Kyuhyun tersenyum sambil menjatuhkan air matanya untuk alasan yang tidak ia ketahui.

Untuk saat ini, ia sangat bahagia.

“Apa, Cho Kyuhyun?” Seohyun hampir berteriak sambil memegang erat lengan pria di depannya. “Katakan dimana dia!”
“Se-seohyun.. kau harus tenang” Kyuhyun melepas genggaman Seohyun dan menggantinya dengan pelukan lembut. “Aku tidak mau kondisimu memburuk lagi.”
“Aku tidak peduli!!” Kali ini Seohyun berteriak nyaring. Ia mendorong bahu Kyuhyun kuat-kuat dan menatap Kyuhyun dengan tatapan menyedihkan—juga terluka. “Hanya katakan padaku dimana Jinri sekarang?”
Kyuhyun tidak juga bersuara. Seakan-akan beribu alasan yang telah ia buat untuk hari ini menguap begitu saja di udara. Tenggorokannya tercekat. Ia tidak bisa lagi meneruskan kata-katanya. Semua perasaan ini tercampur aduk, antara bingung, sedih dan terluka. Kyuhyun tahu cepat atau lambat ia akan menghadapinya—mendengar pertanyaan Seohyun tentang dimana dan bagaimana keadaan bayi mereka. Tapi tidak dalam waktu secepat ini—wanita itu baru saja sadar dari komanya selama beberapa hari lalu dan sekarang ia mendapati istrinya hampir menangis putus asa karna bayi mereka.
“Jika kau tidak ingin mengatakannya, aku akan keluar dan bertanya pada suster.” Seohyun bergegas turun dari ranjang dan melepas infus serta kabel-kabel lainnya yang masih meliliti tubuhnya.
“Apa? Tidak, tunggu!” Kyuhyun berkata tegas dan keras. Ia menahan kedua lengan kurus istrinya itu untuk tidak melakukan hal bodoh yang bisa membahayakannya. “Kau tidak boleh turun dari ranjang atau berjalan kemanapun saat kondisi seperti ini. Aku tidak mengizinkanmu.”
“Lalu katakana dimana dia!”
.
.
Satu menit lebih .. dan masih tidak ada jawaban.
Pria itu kehilangan kata-kata saat air mata perlahan turun melewati pipinya. Alasan-alasan masuk akal yang telah ia siapkan beberapa waktu lalu rasanya menguap begitu saja. Tak tersisa bahkan habis hingga huruf terakhir.
Kyuhyun hanya perlu mengatakan tidak dan semua akan selesai. Ia hanya perlu membohongi Seohyun, atau setidaknya mengatakan kata ‘baik-baik saja’ agar istrinya itu bisa beristirahat untuk masa penyembuhannya dengan tenang.
Tapi Kyuhyun tidak sanggup. Ia bahkan menunduk dalam-dalam sambil membiarkan air matanya berjatuhan dimana-mana.
“Maafkan aku ..”
….
Kadang dunia memang berlaku terlalu kejam.
Hidup ini, siapa yang dapat mengira jika jika dua atau bahkan satu detik kedepan dapat membuat perubahan besar pada hidup seseorang.
Seohyun memejamkan matanya erat-erat. Air matanya belum berhenti mengalir sejak dua hari lalu. Belum pernah ia menangis selama ini sepanjang hidupnya—setelah kematian kedua orang tuanya dan juga Kyuhyun saat kecelakaan pesawat 15 tahun lalu.
Ini menyakitkan.
Ia memegang dadanya kuat-kuat sambil berpikir apa yang harus ia lakukan pada situasi seperti ini.
Tidak ada seorangpun yang siap kehilangan seseorang yang ia cintai. Bahkan ketika ia telah memikirkan kemungkinan terburuknya sekalipun. Seohyun terlalu lelah untuk situasi seperti ini.
Pertama Ayahnya..
Lalu Ibunya..
Dan sekarang, putri kesayangannya?

Seohyun terisak dalam-dalam sambil memegang lututnya sendiri. Ia tidak peduli tentang selang infus yang melukainya dan membuat punggung tangannya berdarah, ia tidak peduli tentang kepalanya yang semakin berdenyut cepat ketika ia menangis terlalu banyak.
Bahkan Seohyun tidak peduli pada pria yang selama ini berada di sampingnya dan menatapnya sendu. Ia hanya butuh pelampiasan, dan menangis banyak-banyak merupakan salah satu caranya.
“Kau harus berhenti bersikap seperti ini, Seohyun!” Kyuhyun menggenggam lengan Seohyun kuat-kuat sambil mencoba masuk ke dalam tatapannya. “Jinri tidak akan kembali. Kau hanya menyiksa dirimu!”
“Kenapa kau harus menolongku dan bukannya Jinri lebih dulu?? Dia hanya bayi kecil Cho Kyuhyun!” Seohyun menggerang. Mencoba melepaskan genggaman pria itu sekuat tenaga. Tapi kenyataannya Kyuhyun masih mengurungnya disana—dengan sangat erat.
“Hentikan pembicaraan ini!” Rahang Kyuhyun mengeras. “Kau ingin aku mengabaikanmu yang terluka parah begitu saja? Kau bisa mati.”

“….”
Tidak ada jawaban. Seohyun hanya membiarkan Kyuhyun memeluknya dalam-dalam. Sama seperti tadi malam dan kemarin. Membuatnya kelihatan begitu rapuh dan berantakan.
“Jadi kau lebih memilih menyelamatkanku dibanding Jinri?”
Kyuhyun memeluknya lebih erat, lebih dalam hingga ia tenggelam pada tengkuk leher Seohyun.
“Aku tidak bisa membiarkanmu..” Pria itu menangis. Ia—keduanya begitu terluka dengan keadaan ini. “Tak bisakah kau mengerti keadaanku Seohyun? Aku begitu mencintaimu. Maaf”
Nyatanya kata ‘maaf’ itu tidak bisa menyembuhkan luka hatinya.
Kata ‘aku mencintaimu’ tidak bisa membuat bibirnya tersenyum.
Seohyun menutup matanya erat-erat. Membiarkan Suaminya memeluknya erat-erat sambil sesekali mencium wajah dan keningnya untuk membuat suasana lebih baik. Tapi tetap saja tidak bisa.
Karna Seohyun telah mengetahui sesuatu yang lebih penting. Sebuah ironi yang menyakitkan
.
.
.
Jinri meninggal karna dirinya

 

I’m Comeback ^^ aduh maaf ini gak sempet ngedit.

Advertisements

10 thoughts on “In Heaven : In the Past (I)

  1. Aigoo…sedih…bkn baper…smoga seokyu kedepan nya lbh baik lg..mash bs pny baby lg…hiiiii…ditunggu next part nya..

  2. Pada akhirnya mereka pada saling menyalahkan diri sendiri. Yah… Mungkin mereka harus berlapang dada dan ikhlas… Terus mulai membuka lembaran baru dengan masa lalu untuk pelajaran….Tsssaaahhhhhhh

  3. ya ampun seohyun n kyuhyun kasihan banget
    anak mereka pergi meninggalkan mereka karena kecelakaan fatal
    kyu gak bisa disalahin juga karena mungkin kyu juga kalut
    ditunggu kelanjutannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s